SuaraJogja.id - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mengecam tindakan kepolisian yang tak membuka akses pendampingan kepada 95 orang yang diamankan Polresta Yogyakarta pascabentrokan di kantor DPRD DIY. LBH menyebut Polresta Yogyakarta telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam proses pemeriksaan.
"Jadi ada proses pemeriksaan ini menyalahi aturan karena selama korban penangkapan ini berada di kantor polisi tidak ada pendampingan dari siapa pun, bahkan tim kuasa hukum, sehingga Polresta [Yogyakarta] melakukan pelanggaran HAM," kata Yogi kepada wartawan, Sabtu (10/10/2020).
Ia melanjutkan, korban, tersangka, terdakwa, dan terpidana memiliki hak untuk mendapatkan bantuan hukum selama menjalani proses pemeriksaan polisi.
"Di dalamnya ada proses pemeriksaan. Jadi dalam aturan hukum pidana, korban wajib didampingi saat proses hukum dari pemeriksaannya. Namun yang terjadi kemarin, mereka tak dapat pendampingan karena tim kuasa hukum ARB dihalangi masuk [ke kantor]," kata dia.
Tim Kuasa Hukum ARB, yang terdiri dari PBHI, LBH Yogyakarta, hingga LKBH FH UII Yogyakarta telah mendatangi Mapolresta Yogyakarta, Kamis (8/10/2020) malam. Sekitar pukul 23.00 WIB, mereka meminta kepolisian untuk memberikan akses pendampingan bagi korban penangkapan.
"Sejak pukul 19.00 WIB [usai bentrok] aduan yang masuk makin bertambah, sehingga tim kami mempersiapkan pada malam hari untuk melakukan pendampingan ke kantor polisi," kata Yogi.
Namun, kata Yogi, permintaan tim kuasa hukum tak langsung dikabulkan. Selain itu, akses memberi pendampingan dihalangi, bahkan tim kuasa hukum baru diperbolehkan masuk dan bertemu demonstran yang ditangkap pada Jumat (9/10/2020).
"Kami terus memaksa pihak kepolisian untuk memberikan akses. Hampir 3 jam kami menunggu di depan gerbang kantor polisi, tetapi tak ada kejelasan. Kami hanya mendapatkan data bahwa ada 95 orang massa yang ditangkap, tapi kami tak bisa bertemu untuk mendampingi saat itu," jelas dia.
Kepolisian, lanjut Yogi, juga tak menghormati tugas advokat. Hal itu menyusul dengan ditutupnya akses pendampingan dan tak ada keterlibatan kuasa hukum terhadap proses pemeriksaan korban penangkapan.
Baca Juga: Belasan Demonstran Positif, Anies Cemas Kasus Naik, Apalagi Mau Liburan
Tak hanya tindakan menghalangi tim kuasa hukum untuk mendampingi korban penangkapan, tim kuasa hukum ARB lainnya yang juga perwakilan Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Ristu, mengutuk keras tindakan represif aparat saat mengamankan sejumlah pengunjuk rasa.
"Kami juga melihat langsung bagaimana aparat menangkap massa aksi, mulai ditendang, dipukul, dan diseret, sehingga bentuk represif ini menjadi catatan kritis kami terhadap kepolisian," katanya.
Sebelumnya diberitakan, demo tolak UU Cipta Kerja melibatkan bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian di kantor DPRD DIY, Kamis (8/10/2020).
Kepolisian mengamankan sejumlah pengunjuk rasa dalam aksi tersebut.
Sebanyak 95 orang diamankan polisi dan dibawa ke Mapolresta Yogyakarta.
Hingga kini polisi telah menetapkan 4 tersangka dalam bentrokan yang terjadi di Yogyakarta.
Berita Terkait
-
Belasan Demonstran Positif, Anies Cemas Kasus Naik, Apalagi Mau Liburan
-
Sepintas Terlihat Biasa, Demonstran Ini Pakai Outfit Bak Anak Sultan
-
Dibandingkan Jokowi, Anies Dinilai Novel Bamukmin Jauh Lebih Gentleman
-
Orang Tua Sempat Tak Bisa Temui Demonstran yang Ditangkap, Ini Kata Polisi
-
Video Demonstran di Jogja Oles Pasta Gigi ke Polisi dan 4 Berita SuaraJogja
Terpopuler
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Erin Taulany Klarifikasi Soal Komentar Hamil Duluan: Sumpah Demi Allah Akun Saya Dibajak
- Media Israel Sindir Presiden Prabowo: Setahun Lalu Dukung Kami Sekarang Teriak Free Palestina
Pilihan
-
Miras Oplosan Tewaskan 4 Orang di Cianjur, 2 Korban Masih Kritis
-
Tangis Ibrahim al-Madani Saat Pertama Azan di Masjidil Haram, Sang Muazin Tutup Usia di 51 Tahun
-
Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026
-
KPK OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena
-
KPK Geledah Rumah Mewah Polisi Yayat Sudrajat di Depok, Terkait Kasus Suap Bekasi
Terkini
-
4 Atlet Junior Padel DIY Tembus Seleksi Timnas KU-18, Buktikan Bakat Tak Kenal Latar Belakang
-
Jogja Disesaki Ratusan Kampus, Tapi Tambang Ide Belum Banyak Terserap Masyarakat
-
11 Bangunan Lama Diratakan dengan Tanah, Wajah Stasiun Lempuyangan Mulai Diubah
-
Perkuat Portofolio, BRI Wealth Management Ungkap Strategi Diversifikasi Investasi Syariah
-
Hanung Bramantyo Bawa Sejarah Kelam 1965 Lewat Film Horor Lobang Buaya, Berharap Buka Ruang Diskusi