Eko Faizin
Kamis, 07 Mei 2026 | 19:56 WIB
Tokoh Yogyakarta Silaturahmi dengan Amir Nasional Muslim Ahmadiyah Indonesia. [Ist]
Baca 10 detik
  • Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia bertemu dengan sejumlah tokoh di Yogyakarta.
  • Silaturahmi tersebut dilakukan di tengah ketegangan geopolitik dunia akibat konflik Amerika dan Iran.
  • Pertemuan itu menjadi ruang dialog untuk memperkuat persatuan umat dan perdamaian di Indonesia.

SuaraJogja.id - Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus melakukan silaturahmi kebangsaan dengan sejumlah tokoh lintas pemikiran dan tokoh masyarakat di Yogyakarta, Rabu (6/5/2026).

Kunjungan dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak luas terhadap negara-negara Muslim, baik secara politik maupun ekonomi.

Pertemuan yang dikemas dalam obrolan santai makan malam bersama, berlangsung hangat dan penuh semangat persaudaraan. 

Agenda tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat persatuan umat, membangun kolaborasi kebangsaan, serta memperkokoh komitmen perdamaian di Indonesia.

Turut hadir sejumlah tokoh Yogyakarta yakni, pengasuh Pondok Pesantren Ummahat sekaligus Koordinator Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta KH Abdullah Muhaimin, Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Mohammad Shodik dan Koordinator Seknas Jaringan Gusdurian Jay Ahmad.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr Alimatul Qibliyah, Direktur Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Dr Syamsul Maarif, serta Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogya Hartanto Adi Saputra.

Sementara dari pihak Muslim Ahmadiyah hadir mendampingi antara lain Juru Bicara Nasional Ahmadiyah Yendra Budiana, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ahmadiyah Yogyakarta DR Didit Barianto serta Mubaligh Daerah Ahmadiyah Yogyakarta Basyirudin Suhartono.

Dalam dialog tersebut, Zaki Firdaus menekankan bahwa konflik dan perang yang terjadi di berbagai belahan dunia telah membuka fakta bahwa perpecahan di tengah umat sering kali dimanfaatkan oleh elit-elit global demi kepentingan ekonomi dan politik mereka.

Menurutnya, perbedaan-perbedaan kecil di tengah umat kerap diperbesar dan dieksploitasi sehingga melahirkan konflik berkepanjangan yang melemahkan persatuan bangsa-bangsa Muslim.

Zaki menegaskan bahwa para pemimpin umat di Indonesia perlu memiliki kesadaran bersama untuk terus membangun ruang-ruang perjumpaan, memperluas dialog, dan memperkuat kerja sama lintas kelompok.

"Indonesia memiliki modal besar berupa budaya gotong royong dan persaudaraan. Karena itu, tugas para tokoh agama dan tokoh masyarakat hari ini bukan memperlebar jarak perbedaan, tetapi menghadirkan kesepahaman, membangun kolaborasi, memperkuat persatuan, dan memajukan perdamaian," ujarnya.

Jay Ahmad selaku Koordinator Seknas Gusdurian mengungkapkan bahwa kemunculan Jaringan Gusdurian lahir atas peristiwa Cikeusik yang mengakibatkan terbunuhnya 3 pengikut Muslim Ahmadiyah hanya karena mempertahankan keyakinannya.

Peristiwa tersebut kemudian menginspirasi bahwa harus ada bagian masyarakat yang terus menerus menjaga penghormatan atas keragaman dan perbedaan termasuk dalam isu agama sebagaimana yang diperjuangkan oleh Gus Dur.

Oleh karena itu, Gusdurian hadir membersamai Muslim Ahmadiyah baik dalam peristiwa adanya persekusi ataupun kerja kerja bersama kemanusiaan termasuk acara terkini bedah buku Muslim Ahmadiyah & Indonesia yang digelar di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Kamis (7/5/2026).

Sebuah buku yang ditulis 100 tokoh Indonesia non Ahmadiyah merekam refleksi peran, kontribusi, perjuangan dan advokasi 100 tahun kerja kemanusian dan keberagamaan Muslim Ahmadiyah di Indonesia

Load More