Budi Arista Romadhoni
Rabu, 06 Mei 2026 | 16:04 WIB
Penampilan teater Seriboe Djendela di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (6/5/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Pemerintah memangkas dana transfer dan Dana Keistimewaan DIY tahun 2026 yang berdampak pada penyesuaian anggaran sektor seni.
  • Pengurangan frekuensi kegiatan seni di Yogyakarta menyebabkan penurunan pendapatan bagi pekerja seni serta pelaku UMKM kreatif setempat.
  • Komunitas seni kini menghadapi tantangan finansial dan keterbatasan panggung, sehingga harus mencari alternatif dana melalui program hibah.

SuaraJogja.id - Efisiensi anggaran yang digulirkan pemerintah mulai 2026 ini mulai dirasakan dampaknya di sektor industri kreatif dan seni di Yogyakarta. Bilamana tidak, penurunan dana transfer ke Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar Rp167 miliar dan Dana Keistimewaan (danais) yang juga turun jadi Rp1 Triliun membuat sejumlah program Pemda DIY, termasuk yang berkaitan dengan seni kebudayaan mengalami penyesuaian.

Frekuensi pentas mulai berkurang, kegiatan seni tidak lagi seramai sebelumnya. Parahnya sebagian pekerja seni mulai kehilangan sumber pendapatan.

Eliandra, kurator sekaligus seniman teater disela Yogyakarta Urban Teater Festival di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (6/5/2026) mengaku pengurangan anggaran tersebut berpotensi memengaruhi ekosistem seni yang selama ini hidup dari berbagai kegiatan pertunjukan dan festival.

Dicontohnnya, danais yang selama ini sering digunakan untuk mendukung program kebudayaan juga mengalami penyesuaian. Akibatnya para seniman terpaksa ikut melakukan efisiensi event berskala besar seperti festival atau pameran seni.

"Unit dampak dari efisiensi memang beberapa teman merasakan. Khususnya di kabupaten, efisiensi agak mengurangi kegiatan-kegiatan kesenian dan produktivitas berkesenian," ungkapnya.

Padahal, menurut Eliandra, kegiatan tersebut memiliki efek ekonomi yang cukup luas.

Festival seni selama ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi bagi pelaku seni dan pelaku usaha kecil di sektor kreatif.

"Event seperti festival punya multiplier effect bagi ekonomi, termasuk bagi UMKM kreatif di Yogyakarta," jelasnya.

Eliandra mendapatkan banyak cerita dari komunitas dan sanggar seni yang mengaku dampak efisiensi anggaran mulai mereka rasakan. Sejumlah kegiatan kesenian yang sebelumnya difasilitasi pemerintah kini berkurang.

Baca Juga: Viral Pelari di Jogja Dipukul OTK Saat Ambil Minum, Begini Kronologinya

Contohnya balai budaya yang sebelumnya cukup rutin menggelar pementasan, saat ini aktivitas tersebut tidak lagi seramai sebelumnya.

"Misalnya di kabupaten ada yang namanya kelurahan budaya, dan itu juga berdampak cukup besar. Sekarang kegiatannya tidak seramai dulu," tandasnya.

Para komunitas seni memang masih tetap berlatih. Namun kesempatan untuk tampil di panggung yang difasilitasi pemerintah semakin terbatas.

"Mereka tetap latihan, tetapi untuk pentas yang difasilitasi pemerintah, misalnya di balai budaya, geliatnya tidak seperti sebelum ada efisiensi," akunya.

Situasi ini berdampak langsung pada kondisi ekonomi para seniman. Padahal banyak pekerja seni yang selama ini menggantungkan penghasilan dari kegiatan kesenian.

"Memang ada seniman yang menggantungkan ekonominya dari kesenian, tapi kalau tidak ada acara gimana mereka dapat uang," ungkapnya.

Load More