- Pemerintah memangkas dana transfer dan Dana Keistimewaan DIY tahun 2026 yang berdampak pada penyesuaian anggaran sektor seni.
- Pengurangan frekuensi kegiatan seni di Yogyakarta menyebabkan penurunan pendapatan bagi pekerja seni serta pelaku UMKM kreatif setempat.
- Komunitas seni kini menghadapi tantangan finansial dan keterbatasan panggung, sehingga harus mencari alternatif dana melalui program hibah.
Hal ini cukup mengkhawatirkan para seniman. Apalagi Yogyakarta dikenal sebagai salah satu kota dengan ekosistem seni yang hidup. Jumlah kelompok teater dan sanggar seni di daerah ini bahkan sangat banyak.
Dari pemetaan yang dilakukan melalui berbagai program open call, tercatat ratusan kelompok teater aktif. Kelompok-kelompok tersebut memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari teater pelajar, teater kampung, hingga komunitas seni independen.
Namun tidak semua kelompok memiliki akses panggung atau dukungan dana yang memadai.
Karena itu, banyak komunitas seni kini mulai mencari alternatif sumber pembiayaan. Salah satunya dengan berburu program hibah kebudayaan dari pemerintah pusat yang jumlahnya pun sangat minim.
"Hari ini hibah negara mungkin menjadi salah satu yang paling cocok. Misalnya ada Dana Indonesiana, kemudian ada juga dari Badan Pengelola Kebudayaan wilayah yang mengeluarkan hibah," ungkapnya.
Program hibah tersebut kini menjadi salah satu harapan bagi kelompok seni yang ingin terus berkarya. Namun mereka akhirnya harus memperebutkan hibah tersebut dengan tingkat persaingan yang tinggi.
Selain itu, beberapa komunitas juga mencoba menginisiasi pementasan secara mandiri di wilayahnya masing-masing. Namun upaya tersebut tentu tidak mudah karena produksi pertunjukan seni membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Kesenian itu butuh biaya. Produksi pertunjukan tentu membutuhkan dana," paparnya.
Sementara Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati mengungkapkan terjadi penyesuaian pembiayaan kegiatan yang kini menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik yang diterima.
Baca Juga: Viral Pelari di Jogja Dipukul OTK Saat Ambil Minum, Begini Kronologinya
"Dengan adanya efisiensi anggaran, sebagian kegiatan yang sebelumnya menggunakan danais kini dialihkan pembiayaannya melalui DAK, padahal DAK juga turun," paparnya.
Di tengah situasi efisiensi anggaran, kegiatan seni tetap berusaha dijaga agar tidak berhenti sepenuhnya. Salah satunya melalui penyelenggaraan festival teater tahunan di tempat itu 6–8 Mei 2026 ini.
Purwiati menambahkan,Taman Budaya juga berupaya memastikan kegiatan seni tetap berjalan sebagai bagian dari program pembinaan komunitas. Sebab minat masyarakat terhadap seni pertunjukan masih sangat besar.
"Kami melihat apresiasi dari generasi muda cukup tinggi. Bahkan mereka sering merasa ketagihan setelah menonton pertunjukan di Taman Budaya," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- 5 Sepatu Jalan Lokal Tanpa Tali yang Nyaman dan Anti Jebol Menurut Review
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Perempuan Tak Punya Pilihan Berhenti Haid, Pajak Pembalut 11 Persen Dinilai Nodai Keadilan Gender
-
Kota Jogja Vs Gunungkidul: Jarak Kualitas Hidup Ini Ternyata Masih Jauh!
-
Dinkes Sleman Catat 112 Kasus Leptospirosis hingga Oktober 2026, Dua Meninggal Dunia
-
BRI Hadirkan Keistimewaan Pendidikan Anak bagi Nasabah Private dan Prioritas
-
Kas Daerah DIY Seret, Pemda Bidik Parkir hingga Penunggak Pajak jadi Sumber Pajak Baru