- LBH Yogyakarta melaporkan kasus pengeroyokan dua mahasiswa peserta aksi Hari Buruh ke Mapolda DIY pada Rabu, 6 Mei 2026.
- Peristiwa kekerasan terjadi di Jalan Perwakilan, Yogyakarta, setelah massa aksi damai membubarkan diri dari depan Gedung DPRD DIY.
- Dua mahasiswa mengalami luka fisik serta perampasan barang pribadi setelah diserang oleh sekelompok orang tak dikenal saat pulang.
SuaraJogja.id - Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Yogyakarta yang seharusnya menjadi panggung demokrasi, ternoda oleh aksi premanisme brutal.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta secara resmi melaporkan dugaan tindak kekerasan dan pengeroyokan yang menimpa dua mahasiswa peserta aksi damai di kawasan Jalan Perwakilan, Kamis (1/5/2026) lalu. Laporan tersebut dilayangkan ke Mapolda DIY pada Rabu (6/5/2026).
Kuasa hukum dari LBH Yogyakarta, Wandi, mengungkapkan kronologi kejadian yang mencekam. Padahal, aksi massa May Day telah berlangsung kondusif dan tertib.
Massa telah menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD DIY dan membubarkan diri tanpa insiden anarkis sedikit pun. Namun, teror dimulai saat sebagian massa melintas di Jalan Perwakilan untuk pulang.
Dua mahasiswa yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan menjadi sasaran amuk sekelompok orang tak dikenal yang dicurigai kuat berasal dari organisasi masyarakat (ormas) atau kelompok preman. Korban pertama diintimidasi, diteriaki, dan dihentikan paksa.
"Atribut aksinya, salah satu tongkat, itu diambil secara paksa terus dipukulkan ke badannya. Kemudian ditahan sama korban pertama. Karena ditahan, langsung masuk pukulan kepada korban yang pertama," tutur Wandi menggambarkan detik-detik kekerasan tersebut.
Brutalitas tak berhenti di situ. Korban kedua yang kebetulan berada di belakang mencoba mendokumentasikan aksi kekerasan tersebut sebagai bukti. Namun, upaya merekam justru memicu kemarahan pelaku. Ponsel korban dirampas paksa, dan ia pun turut menjadi bulan-bulanan.
"Karena dilarang video, HP-nya diambil paksa. Lalu ketika diambil HP-nya, mereka juga dipukul dari belakang," imbuh Wandi.
Akibat serangan tersebut, korban pertama mengalami lebam di tangan dan nyeri hebat hingga sempat tak bisa masuk kuliah. Sementara korban kedua menderita nyeri di bagian kepala yang masih terasa hingga kini akibat pukulan dari arah belakang.
Baca Juga: Bedah Buku 'Muslim Ahmadiyah dan Indonesia' di UKDW Yogyakarta: Bukti Resiliensi dan Cinta Tanah Air
LBH Yogyakarta belum menetapkan pihak terlapor secara spesifik dan masih menunggu hasil penyidikan kepolisian, meski dugaan kuat mengarah pada kelompok ormas atau premanisme.
Dalam laporannya, LBH menggunakan pasal berlapis, yakni Pasal 262, Pasal 466, dan Pasal 79. Wandi menegaskan, kasus ini tidak boleh dikecilkan hanya sebagai tindak pidana penganiayaan atau pengeroyokan biasa. Ini adalah bentuk teror terhadap demokrasi.
"Itu jangan dilihat sebagai penganiayaan pidana biasa ataupun pengeroyokan. Tapi lebih daripada itu, ini adalah bentuk daripada hak seseorang untuk menyampaikan ekspresi di ruang publik yang coba dibungkam dengan cara-cara kekerasan," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
Pilihan
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
-
MBG Makan Korban Lagi, Siswa SD Lampung Meninggal Tersedak Menu Kelengkeng
Terkini
-
Medsos Jadi Etalase Bisnis Konten Seksual, Perhatian Penonton Bisa Dikomodifikasi
-
BRI Private Berikan Akses Premium Medical Check Up untuk Nasabah
-
Kuliah Gratis PTN Didorong, Akademisi Ingatkan Jangan Sampai PTS Kehilangan Mahasiswa
-
BRI inFrame 2026, Saat Fotografi Mengisahkan Perjalanan Ekonomi Kerakyatan Indonesia
-
6 Fasilitas Kereta Kelas Luxury yang Membuat Perjalanan Berbeda