Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Senin, 26 Oktober 2020 | 21:35 WIB
Pengecekan suhu tubuh di LPKA Klas II Yogyakarta sebagai langkah cegah wabah virus corona, Senin (16/3/2020). [Julianto / Kontributor]

Selain itu, pemicu kekerasan remaja adalah jiwa korps dengan genk yang mereka ikuti. Karena tidak semua anak pelaku kekerasan adalah anak-anak yang menyimpang. Ada di antara mereka bahkan anak manja atau 'Anak Mami'. Namun karena pengawasan yang kurang maka mereka berperilaku menyimpang.

Oleh karena itu, ia menghimbau kepada para orangtua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya. Jika tidak pulang sesuai jadwalnya maka orangtua mengkonfirmasi keberadaan anaknya di mana. Karena tidak sedikit yang menyalahgunakan kepercayaan orangtuanya untuk berperilaku negatif.

"Kalau sudah waktunya pulang tapi belum kelihatan di rumah ya dikaruhke.

Ia menyebut, anak-anak ini cenderung ingin diakui di kelompoknya, sehingga tak segan melakukan kekerasan. Anak-anak ini membutuhkan pengakuan dari oranglain terutama dari teman sepermainannya. Karena mereka memang kurang mendapat perhatian dari lingkungan keluarganya.

Baca Juga: Tewas dalam Kebakaran di Tangerang, Satu Keluarga Dimakamkan di Gunungkidul

Ketika di LPKA, pihaknya berupaya mengembalikan perilaku mereka yang awalnya menyimpang bisa menjadi lebih baik. Mereka juga diupayakan masih mendapat hak untuk belajar dari sekolahnya. Bahkan ada guru pendamping yang datang ke LPKA untuk memberikan pembelajaran.

Load More