SuaraJogja.id - Jelang peringatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020, berbagai persoalan masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini. Salah satunya adalah kenakalan remaja yang selalu saja berulang dalam berbagai moment. Di Yogyakarta, aksi klitih masih terus terjadi, dan sampai saat ini belum terpecahkan pencegahannya.
Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta LPKA Kelas II Yogyakarta Teguh Suroso mengungkapkan, kasus kekerasan yang melibatkan para remaja serta kriminalitas lainnya yang dilakukan oleh mereka terus saja terulang belakangan ini. Dan saat ini sudah ada 20 anak yang menjalani pembinaan di Lembaga ia pimpin.
"Beberapa perilaku 'menyimpang' mereka lakukan,"terangnya, Senin (26/10/2020) di kantornya.
Teguh menyebut, 20 anak yang kini menjadi penghuni LPKA adalah pelaku perundungan 10 anak, kekerasan 7 anak dan pencurian 3 anak. Mereka menjalani pembinaan dengan lama yang cukup variatif. Pihaknya mencatat lama hukuman yang mereka harus jalani adalah ukuran bulan hingga 7 tahun.
Baca Juga: Tewas dalam Kebakaran di Tangerang, Satu Keluarga Dimakamkan di Gunungkidul
Terakhir yang mereka terima adalah para pelaku kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal di Plered kabupaten Bantul beberapa waktu yang lalu. LPKA menerima mereka untuk dibina sehingga bisa kembali ke jalan yang lurus seperti yang diharapkan.
"Itu tergantung pada vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim. Di sini variatif, hukumannya beberapa sampai 7 tahun,"tuturnya.
Dia menyebut, dari 20 orang tersebut paling banyak menjalani hukuman 2 tahun penjara. 20 orang masing-masing di antaranya adalah dihukum di bawah 1 tahun ada 3 orang, divonis hukuman kurungan 1 tahun ada 3 orang, 2 orang ada 5 orang, 3 tahun ada 2 orang , 4 tahun ada 4 orang, 5 tahun ada 1 orang dan 7 tahun ada 1 orang.
Sebenarnya, lanjut Teguh, mereka tidak mengetahui apa yang dilakukannya termasuk kekerasan yang mengakibatkan orang lain meninggal. Kekerasan terutama terhadap temannya sendiri tersebut dilakukan secara spontan tanpa ada yang direncanakan.
"Karena lebih banyak disebabkan psikologis massa," terangnya.
Baca Juga: Intensitas Kampanye Tatap Muka di Gunungkidul Tertinggi di Indonesia
Aksi klitih seperti yang terus terulang saat ini sebenarnya tidak ada dalam istilah hukum karena yang ada sejatinya adalah aksi kekerasan. Kekerasan yang dilakukan oleh remaja lebih banyak karena mereka ingin mencari jati diri.
Berita Terkait
-
Gerebek Markas Geng Tawuran di Kemayoran, Polisi Sita Celurit hingga Stick Golf
-
Cemburu Buta! Pria di Blitar Bacok Mantan Istri dan Ibu Mertua!
-
Dua Kelompok Remaja di Senen Tawuran Petasan Usai Salat Ied
-
AMSI Sebut Demo RUU TNI Picu Eskalasi Kekerasan Pers: Bungkam Media dan Jurnalis
-
Remaja di AS Dibunuh dan Diperkosa Ayah Kandung, Leher dan Tangan Nyaris Putus!
Terpopuler
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Lisa Mariana Pamer Foto Lawas di Kolam Renang, Diduga Beri Kode Pernah Dekat dengan Hotman Paris
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Chat Istri Ridwan Kamil kepada Imam Masjid Raya Al Jabbar: Kami Kuat..
Pilihan
-
Gawat! Mees Hilgers Terkapar di Lapangan, Ternyata Kena Penyakit Ini
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
Terkini
-
Prabowo Didesak Rangkul Pengusaha, Tarif Trump 32 Persen Bisa Picu PHK Massal di Indonesia?
-
Viral, Mobil Digembosi di Jogja Dishub Bertindak Tegas, Ini Alasannya
-
Tanggapi Langkah Tarif Trump, Wali Kota Jogja: Kuatkan Produk Lokal!
-
Masa WFA ASN Diperpanjang, Pemkot Jogja Pastikan Tak Ganggu Pelayanan Masyarakat
-
Kurangi Kendaraan Pribadi Saat Arus Balik, Menhub Lepas 22 Bus Pemudik di Giwangan