Katanya sudah naik, terus denger suara gemuruh gitu terus turun, istilahnya bawa pengungsi. Anaknya atau cucunya Mbah Maridjan itu saya enggak tahu. Pas turun dia lihat ada mobil nganggur, di dalamnya ada Pak Tutur yang dari PMI, terus diajak naik mau. Jadi pas di depan rumah Mbah Maridjan itu ya sudah. Katanya posisi mobil masih menyala, pintu sudah terbuka semua, sudah siap turun, tapi itu, ya pas ada wedus gembel.
Jadi pas saya dikasih rekamannya ini, ada suara "Wan itu ada suara sirene," terus dia jawab, "iya ini baru mau turun." Mau turun, terus suami saya teriak "panas panas" gitu, sudah, terus ilang, sudah enggak ada. Posisinya memang di depan rumah Mbah Maridjan.
Apa yang Ibu ingat tentang yang Ibu rasakan ketika mengetahui kondisi suami seperti itu?
Jujur sih biasa saja, karena saya enggak pernah selalu berdua walaupun dia pacaran sama saya lama ya, delapan tahun, sejak kelas dua SMA. Setiap kali pulang, dia pergi melangkah gitu, begitu keluar berarti saya harus merelakan dia. Mungkin karena waktu saya tidak pernah selalu berdua ya, tapi kehilangan iya jelas. Cuma kalau lihat di rumah ada meja kerjanya dia, itu kok, "sek duwe wes ora bali meneh [yang punya enggak kembali lagi]".
Baca Juga: Aktivitas Merapi Meningkat, Desa Bersaudara Siapkan Lokasi Pengungsian
Hari pertama enggak sih karena masih banyak orang. Setelah seminggu itu ya baru kerasa. Sampai waktu mau dimakamkan itu kan anak saya yang kecil itu mau ikut nyemplung. Nah di situ yang membuat saya ambyar, ini saya nangis. Saya bilang sama anak saya yang besar ini, saya bisa. Terus anak saya yang besar cuma bilang, "bisa bu." Ya sudah ya jadi gitu, kerasa kehilangan setelah seminggu, rasanya enggak enak saja. Biasanya pulang, ini kan enggak.
Setelah suami tidak ada, bagaimana ibu dan keluarga menjalani hidup?
Biasa saja sih, saya gak mau berlama-lama di rumah. Setelah selesai, saya kembali dengan kesibukan saya. Kalau terlalu lama di rumah juga kan saya nglangut [terhanyut dalam suasana sedih], jadi saya langsung lanjutkan kegiatan saya. Saya juga dapat beasiswa untuk anak-anak saya setiap bulan selama lima tahun.
Anak yang kecil, karena semua orang tahu dia anaknya Wawan, jadi minta pindah sekolah ke Jogja. Akhirnya pindah ke sini, dia senang karena teman-temannya enggak ada yang tahu dia anak wartawan. Dia jadi bisa enjoy lagi. Ya kalau kehidupan biasa saja. Begitu banyak orang yang membantu saya. Jadi benar-benar me-manage uang yang sudah dikasih banyak orang. Setiap acara setiap orang tanya uangnya buat apa, ya saya jawab buat anak-anak saya.
Mungkin sekarang saya baru bisa bilang ya, ini lo buktinya uang ini buat mereka. Anak saya sudah pada kerja, pendidikannya sudah dapat yang terbaik, jadi saya bisa bilang, saya kehilangan materi tidak apa-apa, tapi saya bisa mengatakan, "ini lo anak saya sudah jadi orang." Sedikit banyak saya sudah bisa berbangga. Ini anak dengan hidup cuma sama saya, jadi sebisa mungkin ya saya harus bisa mewujudkan mimpinya Wawan.
Baca Juga: Rumahnya Diterjang Awan Panas, Bagong Selamat Berkat Lemari Tua
Seperti anak yang besar itu di (Universitas) Padjajaran ambil Sastra Rusia, terus bapaknya itu pernah bilang, "kamu jangan hanya ngambil pelajaran saja, tapi kamu harus bisa sampai negaranya," akhirnya dibuktikan ambil S2, kemudian selesai.
Berita Terkait
-
Sejarah Erupsi Gunung Lewotobi dari Masa ke Masa, Terbaru Telan 10 Nyawa
-
Aktivitas Gunung Merapi Intensif, Ratusan Guguran Lava dan Awan Panas Ancam Zona Bahaya
-
Deretan Mitos Erupsi Merapi Ini Muncul Lagi Kala Wedhus Gembel Membumbung
-
"Cukup sampai Di Sini" Bupati Magelang Minta Warga Waspada Erupsi Merapi
-
Kegiatan Belajar Mengajar Tetap Berlangsung Pasca Hujan Abu Erupsi Gunung Merapi
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
Terkini
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi