SuaraJogja.id - Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret (MPS) Sriyadi Purnomo menyatakan, lebih dari 40 ribu pekerja kretek saat ini terdampak pandemi COVID-19. Namun, MPS berupaya tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Kami mempertahankan pekerja dengan tidak melakukan PHK pada mereka selama pandemi ini,” papar Sriyadi usai bertemu Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (11/11/2020).
Menurut Sriyadi, produksi kretek tangan bersifat padat karya, sehingga menyangkut banyak tenaga kerja. Satu pelinting hanya mampu memproduksi tujuh batang rokok per menit. Jumlah ini berbeda dari satu mesin, yang dapat menghasilkan 16.000 batang rokok per menit.
Karenanya, produksi kretek tangan sangat bergantung pada sumber daya manusia (SDM) pekerjanya. Bila dilaksanakan PHK, maka produksi kretek tangan akan makin menipis.
Alih-alih PHK, MPS memastikan kualitas produksi rokok tangan di masa pandemi ini. Di antaranya dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat pada pekerja. Sebab, mereka memproduksi rokok tanpa bantuan mesin.
MPS juga lebih menekankan pada upaya preventif agar para pekerja bisa tetap sehat. MPS bahkan memberikan cuti khusus bagi para pekerja perempuan yang sedang dalam kondisi hamil. Selama cuti, pekerja yang hamil pun tetap dibayar penuh. Dengan demikian, mereka tetap bisa bertahan hidup di masa pandemi.
"Semua fasilitas kesehatan juga kita sediakan, bahkan asupan vitamin bagi para pekerja, dan semua fasilitas itu digunakan tidak hanya saat pekerja berada di perusahaan saja, tapi juga selama berada di rumah,” jelasnya.
Terkait pertemuan dengan Sultan, lanjut Sriyadi, MPS mencoba memperkenalkan para pengurus yang baru saja dilantik. Mereka juga melaporkan kegiatan MPS selama masa pandemi.
"Kami sampaikan juga tidak ada pekerja yang di-PHK," imbuhnya.
Baca Juga: Terdampak Pandemi, JKT48 Terancam Bubar
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
-
Terdampak Pandemi, JKT48 Terancam Bubar
-
Penjelasan Menperin Soal PHK Hantui Pekerja di Tengah Resesi Ekonomi
-
Terdampak Pandemi, Puluhan Perusahaan di Jepang Tawarkan Pensiun Dini
-
23 Pabrik di Tangerang Bangkrut Selama Wabah, Pengangguran Makin Banyak
-
Pilot Di PHK Jadi Tukang Rujak karena Pandemi Virus Corona, Kisahnya Viral
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Upacara HUT RI ke-81 di Kulon Progo Berlangsung Tanpa Tenda Pejabat, Seluruh Peserta Berdiri Sejajar
-
Ketika Persoalan Bangsa Tak Kunjung Usai, Bendera 25 Meter Mengingatkan Arti Cinta Tanah Air
-
Civitas Akademika Jogja Pilih Sindir MBG, Kopdes hingga Korupsi Lewat Karnaval Kemerdekaan
-
Perubahan Iklim Mulai Menggerus Produktivitas Ternak, Pakar UGM Dorong Strategi Baru
-
KKN Berubah Jadi Misi Kemanusiaan, 61 Mahasiswa UMY Bertahan di Tengah Bencana NTT