SuaraJogja.id - Gunung Merapi kembali mengalami guguran. Berdasarkan pemantauan dari pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB Kamis (19/11/2020) hingga pemantauan pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB Jumat (20/11/2020) terjadi sebanyak 6 kali guguran.
Pada laporan pemantauan pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB Kamis (19/11/2020) secara visual Gunung Merapi terlihat jelas, asap kawah tidak teramati. Pada periode pengamatan ini dilaporkan suara guguran sebanyak dua kali dari Pos Pemantauan Gunung Merapi (PGM) Babadan.
Pada periode ini terjadi gempa guguran sebanyak 17 kali, gempa embusan 17 kali, gempa fase banyak 101 kali dan gempa vulkanik dangkal 10 kali.
Sedangkan pada pengamatan antara pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB Jumat (20/11/2020) hari ini secara visual Gunung Merapi terlihat jelas, kabut antara 0-II hingga kabut 0-III. Kondisi asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi tinggi 50 cm dari atas puncak. Pada periode ini ini juga terdengar empat kali suara gemuruh di Merapi yang dilaporkan oleh petugas di PGM Babadan. Dengan demikian hari ini pada semalam antara pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB dilaporkan guguran sebanyak enam kali di Merapi.
“[Pada periode pengamatan pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB juga dilaporkan adanya] Suara guguran 4 kali lemah hingga sedang [terdengar] dari Pos Babadan,” ungkap Kepala BPPTKG Hanik Humaida, seperti dilansir dari Harianjogja.com, Jumat (20/11/2020).
Pada Jumat pagi juga dilaporkan adanya gempa guguran sebanyak 21 kali dengan amplitudo antara 4-40 mm berdurasi 12 hingga 88,8 detik. Gempa embusan sebanyak 16 kali dengan amplitudo antara 3 hingga 12 mm, durasi 11 sampai 15 detik. Gempa fase banyak terjadi 117 kali dan gempa vulkanik dangkal tercatat ada 14kali.
Sebelumnya BPPTKG memastikan belum ada muntahan lava yang terjadi di Merapi sejak statusnya naik menjadi Siaga. Adapun guguran yang terjadi beberapa kali, bukan guguran lava namun guguran material vulkanik sisa erupsi sebelumnya.
Material guguran yang pernah meluncur merupakan material sisa erupsi seperti tahun 1948, 1884, 1888. Karena Ketika Merapi Meletus tidak semua material terlontarkan dan masih ada sisa di permukaan sehingga menjadi material vulkanik. Oleh karena itu Hanik memastikan, belum ada muntahan lava.
Baca Juga: Wisata di Kawasan Gunung Merapi Tutup
Berita Terkait
-
Pos Pantau Gunung Merapi Balerante: Kemarin Pagi Terdengar Gemuruh
-
Pengamatan Pos Pantau Desa Balerante: Aktivitas Gunung Merapi Mulai Dinamis
-
BPPTKG Yogyakarta: Magma Bergerak Menuju Permukaan Gunung Merapi
-
Berstatus Siaga, Magma Masih Bergerak Menuju Permukaan Gunung Merapi
-
Gunung Merapi Siaga, Wisata Jeep Lereng Merapi Sepi dan Cari Jalur Lain
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Pasien Rumah Sakit di Bantul Ditangkap Polisi Usai Lecehkan Perawat
-
Buntut Foto Wapres Gibran Diturunkan, Kemendagri Hubungi DPRD DIY, Setwan Langsung Evaluasi
-
Bukan Aksi Sepihak, Forum Kebangsaan DIY Klaim Penurunan Foto Gibran Dipelopori Anggota Dewan
-
Ponpes HQ Sukoharjo Digeledah Polisi, Menag Tegaskan Hukum Berbicara
-
Tukang Cukur hingga Warteg Kena Pajak, Sultan Sebut Seperti Zaman VOC