SuaraJogja.id - Unggahan Anies Baswedan di akun media sosialnya saat mengucapkan selamat pagi sambil mengunggah fotonya membaca buku menuai kontroversi. Membaca buku berjudul How Democracies Die, Anies diduga sedang menyindir pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada juga warganet yang menduga bahwa unggahan itu adalah sindiran untuk peristiwa yang belum lama ini menimpanya.
Pengamat politik Refly Harun ikut membuat video di kanal YouTube-nya yang membahas unggahan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Secara pribadi, ahli hukum tata negara ini menyampaikan bahwa unggahan Anies merupakan bentuk sindiran. Pasti, kata dia, ada maksud tersembunyi di balik unggahannya membaca buku tersebut.
"Tentu bukan tidak ada maksudnya, tetapi memang harus mendalaminya dalam berbagai perspektif," terang Refly.
Namun baginya, unggahan Anies itu hanya untuk menegaskan kritik dan pendapat dari banyak orang yang mengatakan adanya kemunduran demokrasi dalam masa pemerintahan Jokowi periode kedua ini. Ada beberapa tokoh lainnya yang ikut mengkritik sistem demokrasi Jokowi, yakni di antaranya Amien Rais dan Din Syamsudin.
Termasuk dengan tokoh Jimly Asshiddiqie, mereka mengkhawatirkan munculnya pemerintahan yang otoriter, atau dalam istilah lain disebut juga sebagai diktator konstitusional. Menurut Refly, tidak mengherankan jika masyarakat menyoroti masa depan demokrasi Indonesia di masa pemerintahan Jokowi.
"Khawatir demokrasi kita regresif, bukannya maju ke depan, tapi justru mundur ke belakang dengan kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi," imbuh Refly.
Jika dikaitkan dengan fenomena sekumpulan orang berseragam loreng yang menurunkan baliho HRS, Refly berpendapat, seolah adanya kelumpuhan penegak hukum di tingkat lokal maupun nasional. Di satu sisi hal itu bisa saja benar, tetapi di sisi lain hal itu juga menunjukkan keburukan dalam masa depan demokrasi.
Salah satu cara mempercepat kematian demokrasi, kata Refly, adalah mengundang militer dalam dunia politik. Bukan karena militer tidak cinta negara, tetapi karena menurut Refly tidak mungkin senjata dihadapkan dengan demokrasi. Sebab, doktrin dalam dunia militer adalah menghancurkan; tidak ada negosiasi dalam perang.
Ia mengatakan, fungsi TNI adalah menjaga keutuhan dan kedaulatan Republik Indonesia. Karena itu, TNI juga berfungsi sebagai alat perang, bukan alat untuk berpolitik maupun berdemokrasi; sama seperti Polri, yang juga berfungsi sebagai alat keamanan dan tidak memiliki fungsi untuk berpolitik.
Baca Juga: Anies Unggah Baca Buku 'How Democracies Die', Akademisi USU: Gimik Politik
Tonton pendapat Refly selengkapnya DI SINI.
"Jadi biarkanlah politik itu serahkan kepada memang yang hak, yaitu partai-partai politik dalam struktur formal kenegaraan dan kelompok-kelompok sipil," terang Refly.
Ia berharap agar sindiran yang dilakukan oleh mantan pasangan kepala daerah Sandiaga Uno itu hanyalah sindiran. Bukan merupakan kenyataan matinya demokrasi di Indonesia, Refly juga berharap agar semua berjalan dengan baik. Tidak matinya demokrasi menjadi jalan untuk calon presiden periode selanjutnya untuk bertanding secara lebih adil.
Sejak diunggah pada Senin (23/11/2020), video berdurasi 16 menit itu sudah ditonton lebih dari 28 ribu kali.
Ada seribu lebih pengguna YouTube yang menekan tanda suka dan ratusan lainnya meninggalkan komentar.
Beberapa di antaranya justru menyerukan keberpihakan untuk memilih Anies sebagai calon presiden berikutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
BRI Umumkan Dividen Rp52,1 Triliun, Didukung Laba Rp56,65 Triliun
-
BRI Group Buka Pegadaian di Timor Leste, Perluas Layanan UMi
-
BRI Salurkan Banknotes SAR 152,49 Juta untuk Haji 2026, 203.320 Jemaah Bisa Gunakan di Tanah Suci
-
BRI Permudah Investasi Lewat Cicil Emas BRImo, Proses 60 Detik
-
Belum Berlaku Pekan Ini, Pemkab Sleman Masih Sinkronkan Jadwal WFH dengan Instansi Vertikal