SuaraJogja.id - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyoroti kegiatan relawan yang masih nekat melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Pasalnya, hingga saat ini status Gunung Merapi, yaitu Siaga atau level III, menjadikan kegiatan tersebut sangat berbahaya dan tidak dianjurkan.
Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso tetap menyayangkan kegiatan yang dilakukan seorang relawan walaupun dengan alasan misi mitigasi tersebut. Menurutnya, selain dapat membahayakan keselamatan diri, secara tidak langsung aktivitas itu juga menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
“Jumat (27/11/2020) kemarin memang banyak laporan yang masuk, tentang relawan yang naik ke puncak Merapi lalu diunggah di media sosial. Kami sangat tidak menyarankan ada misi apa pun meskipun itu alasan mitigasi, ke puncak Gunung Merapi," ujar Agus saat dikonfirmasi awak media, Minggu (29/11/2020).
Sebelumnya diketahui, beberapa video yang diunggah akun Instagram @laharbara dari puncak Merapi terus mendapat banyak perhatian warganet. Selain memperlihatkan longsoran di dekat kawah puncak Merapi, ada juga video yang menunjukkan rusaknya stasiun pemantauan.
Menanggapi hal tersebut, Agus tidak mengelak bahwa memang ada alat atau stasiun pemantauan yang rusak.
Meski belum diketahui persis kapan stasiun tersebut rusak, tetapi BPPTKG meyakini tidak akan terlalu menggangu perkembangan informasi terkini.
”Memang benar stasiun pemantauan yang ada di puncak rusak akibat lontaran erupsi yang kita juga tidak tahu persis kapan itu terjadi. Namun tidak perlu khawatir, alat substitusi mulai dari drone hingga satelit sudah dioperasikan," ungkapnya.
Agus menuturkan, saat ini kondisi tebing kawah Merapi masih sangat tidak stabil. Hal itu terlihat dari data yang telah dicatat BPPTKG.
Ditambah lagi, kejadian guguran dinding kawah di lava 1954 dalam beberapa waktu lalu. Menurutnya, guguran itu menjadi salah satu yang terbilang bervolume sangat besar sebab hingga mengubah morfologi puncak Merapi.
Baca Juga: Satwa Liar Merapi Turun, TNGM: Diganggu Saja Tak Boleh, apalagi Ditangkap
"Bisa dibayangkan jika ada seseorang yang berada di situ, tentu saja kondisinya sangat berbahaya dan memang tidak disarankan berada di sana," tuturnya.
Ditegaskan Agus bahwa saat ini pemantauan visual Gunung Merapi terus dilakukan oleh BPPTKG dengan dukungan berbagai teknologi yang sudah mumpuni, sehingga, kata Agus, pengamatan langsung dari puncak itu tidak diperlukan lagi sementara ini.
"Teknologi semakin canggih, perubahan morfologi dapat diamati dari berbagai sisi dengan akurasi yang memadai," tegasnya.
Dengan teknologi drone dan satelit yang telah disebutkan tadi, menurutnya dapat memungkinkan untuk mendapatkan data visual tanpa harus memasuki daerah bahaya.
Sekali lagi Agus menekankan agar tidak adanya misi apapun yang langsung ke puncak Gunung Merapi.
"Sementara ini masyarakat bisa untuk tetap tenang dan bersabar dulu menghadapi aktivitas Gunung Merapi ini, kita berikan waktu pada Gunung Merapi untuk berekspresi karena selama ini sudah memberikan manfaat yang sangat besar bagi kita semua," tandasnya.
Berita Terkait
-
Satwa Liar Merapi Turun, TNGM: Diganggu Saja Tak Boleh, apalagi Ditangkap
-
Terkena Material Gunung Merapi, Stasiun Pemantauan BPPTKG Rusak Parah
-
Gunung Merapi Alami 44 Kali Gempa Guguran, Levelnya Saat Ini Siaga
-
Pantauan Udara, BPPTKG Temukan Material Sisa Erupsi Gunung Merapi 1988
-
Terjadi Guguran 2 Kali, Merapi Keluarkan Asap Solfatara Setinggi 600 Meter
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Promo Alfamart dan Indomaret Persiapan Hampers Lebaran 2026, Biskuit Kaleng Legendaris Jadi Murah
Pilihan
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
-
Belanja Rp75 Ribu di Alfamart Bisa Tebus Murah: Minyak Goreng Rp36.900 hingga Sirup Marjan Rp6.900
-
Ayah hingga Istri Tewas! Mojtaba Khamenei: AS-Israel Akan Bayar Darah Para Syuhada
-
Abu Janda Maki Prof Ikrar di TV, Feri Amsari Ungkap yang Terjadi di Balik Layar
-
Resmi Ditahan, Yaqut Diduga Terima Fee dari Jemaah Daftar Bisa Langsung Berangkat Haji
Terkini
-
Jelang Tuntutan Kasus Hibah Sleman, Pertanyaan Majelis Hakim Soroti Risiko Kriminalisasi Kebijakan
-
XL ULTRA 5G+ Raih Sertifikasi Ookla, Bukti Performa Jaringan Diakui Dunia
-
Syukuran Satu Danantara, Cermin Semangat BUMN Bergerak dalam Satu Langkah
-
Antisipasi Nuthuk Harga dan Penimbunan Pangan, DPRD Kota Yogyakarta Minta Pemkot Perketat Pengawasan
-
Sleman Bidik 400 Ribu Wisatawan Selama Libur Lebaran 2026, Sektor Jip dan Candi Jadi Andalan