SuaraJogja.id - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan, hingga saat ini tidak ada kubah lava baru di Gunung Merapi. Gundukan hitam yang sempat dikira sebagai kubah lava baru tersebut rupanya hanya merupakan material gundukan.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala BPPTKG Hanik Humaida kepada awak media, Selasa (2/1/2021). Hanik menegaskan bahwa visual yang teramati itu merupakan material atau gundukan yang berwarna hitam dan bukan kubah lava baru.
Hanik menyampaikan pernyataan ini sebagai tanggapan informasi yang beredar di media sosial yang menyatakan bahwa terdapat kubah lava baru di lereng Gunung Merapi.
Menurut hasil observasi BPPTKG, material tersebut terlihat tidak berpijar. Selain itu, juga tidak teramati adanya asap di material tersebut serta tidak terdapat rekahan di sekeliling material.
"Kami simpulkan material tersebut adalah material vulkanik yang terbawa oleh aliran awan panas guguran," ujar Hanik.
Diketahui bahwa informasi kubah lava baru tersebut sempat diperbincangkan di media sosial. Pertanyaan itu muncul setelah terlihat batu berwarna hitam yang cukup besar di lereng Gunung Merapi dan diduga sebagai kubah lava baru.
Hanik menyampaikan, BPPTKG terus memantau aktivitas pertumbuhan kubah lava 2021 yang saat ini berada di Lava 1997. Diketahui sebelumnya volume kubah lava tersebut sempat mencapai 157.000 meter kubik pada tanggal 25 Januari 2021 lalu.
Namun pada tanggal 28 Januari 2021, volume kubah lava menurun menjadi drastis menjadi sebesar 62.000 meter kubik. Atau berkurang sebanyak 82.000 meter kubik akibat dari aktivitas guguran dan awan panas yang cukup banyak.
Pasca kejadian awan panas guguran tanggal 27 Januari 2021 lalu, kata Hanik, laju pertumbuhan kubah lava 2021 tercatat sebesar 4.000-5.000 meter kubik per hari. Menurutnya laju pertumbuhan kubah lava ini relatif kecil dibandingkan kecepatan pertumbuhan kubah lava rata-rata Gunung Merapi yaitu sebesar 20.000 meter kubik per hari.
Baca Juga: Pertumbuhan Kubah Lava Gunung Merapi Saat Ini Masih Terjadi
"Jadi penuruan kubah lava ini terjadi karena sebagian sudah terlontar pada terjadi saat awan panas kemarin," ungkapnya.
Disampaikan Hanik, berdasarkan total distribusi probabilitas dari 17 indikator, erupsi efusif masih berada paling atas dengan probabilitas sebesar 43,2 persen. Sementara untuk potensi eksplosif dan kubah-dalam menurun secara signifikan.
Melalui kesimpulan itu, ucap Hanik, ditambah memperhatikan erupsi saat ini yang mengarah ke barat daya. Maka potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas.
Potensi bahaya itu bakal berfokus pada sektor Kali Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau sejauh maksimal 3 kilometer dari puncak.
Selain itu kegiatan penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III juga tetap direkomendasikan untuk dihentikan sementara waktu. Ditambah dengan imbauan kepada pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak dalam kondisi saat ini.
Perlu diketahui juga hingga saat ini, BPPTKG masih menetapkan status Gunung Merapi pada Siaga (Level III).
Berita Terkait
-
Pertumbuhan Kubah Lava Gunung Merapi Saat Ini Masih Terjadi
-
Gunung Merapi Luncurkan 16 Kali Lava Pijar Dalam Sehari
-
Antisipasi Hujan Abu Merapi, Candi Asu dan Candi Pendem Ditutup Plastik
-
Senin Pagi, Gunung Merapi 6 Kali Keluarga Guguran Lava Pijar
-
Update Gunung Merapi: Awal Ferbruari Keluarkan Enam Kali Lava Pijar
Terpopuler
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
- Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- 5 Manfaat Air Mawar untuk Wajah dan Kulit yang Menarik Diketahui
Pilihan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
-
Episode Erupsi Gunung Anak Krakatau Berakhir, Kata Badan Geologi
-
Abu Vulkanik Krakatau Meningkat, Operasional Bandara Soetta Berhenti hingga Pukul 6 Sore
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
Terkini
-
Erupsi Ganggu Penerbangan di Adisutjipto, Penumpang KA Daop 6 Yogyakarta Melonjak 12,5 Persen
-
Puluhan Siswa Keracunan di Turi, Orang Tua Desak Stop MBG Kalau Bikin Anak Jadi Korban
-
BMKG: Potensi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau ke Jawa Tengah dan DIY Sangat Minim
-
Ancaman Bencana Kepung Jogja, DPRD Sindir Pemda: Anggaran Beli Tanah Ada, Keselamatan Warga Tak Ada
-
Berkaca dari Gunung Kelud, Sri Sultan Sebut Abu Vulkanik Anak Krakatau Bukan Diusir Pakai Kipas