"Intensitas hujan yang cukup deras membuat suara air yang jatuh ke atap rumah masih seperti hujan es. Paling lama durasinya 2 menit," terangnya.
Hujan es tersebut bersifat lokal atau hanya terjadi pada radius dua kilometer, lanjut Indah. Hujan es disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) lebih dari 10 kilometer dan berpotensi terjadi dimana saja.
"Namun, potensinya lebih tinggi bisa terjadi di wilayah pegunungan. Karena parameter cuaca yang sangat mendukung pertumbuhan awan," imbuhnya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap memperhatikan saluran air agar tidak terjadi genangan.
Sementara untuk mengantisipasi angin kencang, masyarakat diimbau untuk berteduh di bangunan yang kokoh dan menghindari baliho, pohon serta tiang listrik, tidak menghidupkan alat elektronik saat terjadi petir.
Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menuturkan, hujan es bermula dari saat udara hangat, lembap, dan labil terjadi di permukaan bumi.
Maka, pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas atau atmosfer dan mengalami pendinginan.
Setelah terjadi kondensasi, akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb).
Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi, maka puncak awan sangat tinggi hingga mencapai freezing level. Freezing level tersebutlah yang membentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar.
Baca Juga: Jogja Hujan Es Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak
"Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es," ungkapnya.
Reni menambahkan, es yang turun akan bergesekan dengan udara. Sehingga mencair dan saat sampai di permukaan tanah, ukuran es akan lebih kecil. Hujan es, saat ini masih berpotensi tinggi terjadi pada musim hujan dan pancaroba.
Kontributor : Uli Febriarni
Berita Terkait
-
Jogja Hujan Es Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak
-
Hujan Es Guyur Wilayah Jogja, Berikut Penjelasan BMKG
-
Hujan Es di Jogja, Butiran Sebesar Satu Ruas Jari Kelingking
-
Hujan Es Guyur Sejumlah Titik di Jogja, Jalan AM Sangaji Hingga Area UGM
-
Pertama Kali Digempur Hujan Es, Warga di Kabupaten Paser Mendadak Heboh
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
- Warga Makassar Mengaku Diminta Bayar Rp500 Ribu Urus Surat Waris
Pilihan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
-
Listyo Diberhentikan, Suyudi Dilantik Prabowo Siang Ini Jadi Kapolri Baru Usai Disetujui DPR
-
Listyo Sigit Prabowo Segera Diganti, DPR Setujui Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
Terkini
-
Erna dan Ari, Pasangan Atlet Disabilitas yang Tumbuh Bersama Lewat Warung Kelontong
-
DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran
-
Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas
-
Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan
-
Cara PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Cegah Perdagangan Orang Lewat Pangan dan Wayang