SuaraJogja.id - Pandemi Covid-19 memaksa setiap orang memakai masker guna memperkecil paparan virus corona. Berbagai masker diciptakan dan digunakan oleh hampir setiap orang baik saat berpergian.
Satu hal yang mungkin terlupakan adalah mengolah limbah medis khususnya masker tersebut di tengah masyarakat. Sebab jika salah dalam penanganannya limbah medis infeksius tidak hanya bisa justru menularkan penyakit tapi juga mencemari lingkungan.
Menanggapi hal ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman turut hadir guna memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Tidak dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang belum paham benar menangani limbah medis itu.
Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo menuturkan, terdapat dua tingkatan perihal limbah medis ini. Mulai dari tingkatan fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan rumah tangga.
"Jadi untuk pengolahan limbah medis ini tingkatannya ada faskes dan rumah tangga," kata Joko kepada awak media, Kamis (11/3/2021).
Menurut Joko, pengolahan limbah medis di tingkat faskes sudah lebih teratur. Artinya sudah ada prosedur penanganan limbah sesuai dengan standar ketentuan dan keamanan yang berlaku.
"Kalau di tingkat fakses itu sudah tidak masalah karena semua [faskes] sudah bekerja sama dengan pengolahan limbah medis," ucapnya.
Joko menyebutkan faskes tersebut meliputi semua yang ada di Kabupaten Sleman, mulai dari puskesmas, rumah sakit serta faskes darurat yakni Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang yang digunakan sebagai tempat isolasi pasien terkonfirmasi positif Covid-19.
"Jadi semua faskes di Sleman itu secara periodik diambil oleh pihak ketiga untuk kemudian dikirim ke tempat pembuangan sampah medis di Jawa Barat sana," tuturnya.
Baca Juga: Viral! Tak Pakai Masker, PM Thailand Malah Semprot Desinfektan ke Wartawan
Saat ini, yang menjadi persoalan adalah pengolahan limbah di tingkat rumah tangga, khususnya limbah berupa masker medis sekali pakai yang sering digunakan.
Tidak dipungkiri memang masih ada beberapa orang yang hanya memakai masker kain dalam kesehariannya. Walaupun sebetulnya, kata Joko, pengguna masker kain hanya disarankan untuk waktu 4 jam saja.
Berbeda dengan masker medis yang bisa digunakan sampai 8-10 jam. Hal itu yang kadang membuat orang-orang lebih banyak memilih menggunakan masker medis untuk beraktivitas sehari-hari.
Joko menjelaskan pengolahan limbah masker medis itu nyatanya juga tidak bisa sembarangan. Terdapat beberapa langkah hingga pada akhirnya limbah masker itu bisa dibuang layaknya limbah rumah tangga biasa.
"Jadi [masker] kalau sudah selesai digunakan bisa dipotong terlebih dulu lalu direndam dengan cairan yang mengandung deterjen. Setelah direndam di dalam cairan deterjen itu sekitar 30 menit itu sebenarnya selesai. Nah [limbah masker] sudah merupakan sampah rumah tangga. Jadi tidak akan menularkan sehingga bisa dikelola seperti limbah rumah tangga biasa," paparnya.
Guna lebih menekankan pemahaman itu kepada masyarakat luas, Dinkes Kabupaten Sleman terus melakukan sosialisasi dan edukasi. Mulai dari lewat perangkat desa hingga tenaga kesehatan yang ada di puskesmas.
Berita Terkait
-
Viral! Tak Pakai Masker, PM Thailand Malah Semprot Desinfektan ke Wartawan
-
Lagi Perawatan tapi Lapar, Perempuan Ini Santai Jajan sambil Maskeran
-
Videografis: Tips Menyimpan Masker Kain dengan Aman
-
Viral Video PM Thailand Tak Pakai Masker Semprot Disinfektan ke Wartawan
-
Hari Kedua Vaksinasi Covid-19 Massal di Sleman, Dinkes Sasar Pegawai OPD
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
Terkini
-
Okupansi Hotel Tak Maksimal saat Libur Lebaran, Wakil Wali Kota Jogja Ungkap Penyebabnya
-
Libur Lebaran Belum Habis, Kunjungan Wisata di Kabupaten Sleman Stabil Tinggi
-
Produksi Sampah Naik 20 Ton per Hari saat Libur Lebaran, DLH Kota Jogja Pastikan Tidak Menumpuk
-
Duh! Serbuan Pemudik ke Jogja Tak Buat Okupansi Hotel Capai Target, Penginapan IlegalJadi Sorotan
-
Pemkot Yogyakarta Jajaki Uji Coba WFH Satu Hari Sepekan, Efisiensi BBM Jadi Tolok Ukur Utama