SuaraJogja.id - Sebanyak sepuluh hotel di Jogja disiapkan untuk menampung para pemudik yang terlanjur tiba di kota ini akibat pemberlakuan larangan mudik. Mereka harus melakukan isolasi mandiri(mandiri) selama lima hari di hotel-hotel yang ditunjuk.
Namun ada aturan yang harus dipatuhi para pemudik yang melakukan isolasi. Mereka harus membawa surat keterangan sehat berupa hasil tes negatif rapid antigen atau PCR.
"Ada sekitar 500 kamar di sepuluh hotel yang disiapkan untuk karantina ini. Ini masih koordinasi dengan pemerintah daerah,” ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (DPD PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono.
Menurut Deddy, pengelola hotel memiliki paket menginap untuk para pemudik dan masyarakat yang akan menjalani isolasi mandiri di hotel. Dalam paket tersebut, para tamu akan mendapatkan jatah tiga kali makan dalam sehari.
Selain itu para tamu juga mendapatkan layanan pemeriksaan rapid antigen sebanyak satu kali. Rapid dilakukan untuk mendeteksi penularan COVID-19 d akhir masa karantina.
Harga paket untuk untuk lima hari isolasi sangat beragam. Untuk hotel berbintang sekitar Rp 6-9 juta, sedangkan untuk hotel non bintang sebesar Rp 3 juta.
“Hotel untuk lokasi karantina adatersebar di lima kabupaten/kota. Namun kami belum tahu apakah layanan tersebut akan digunakan dalam kondisi darurat saja ketika kapasitas shelter isolasi di DIY penuh atau digunakan sewaktu-waktu jika masyarakat membutuhkan," jelasnya.
Secara terpisah Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie menjelaskan, Dinkes akan mengawasi hotel-hotel yang menyediakan layanan isolasi bagi pemudik maupun masyarakat. Satpol PP akan melakuka pengawasan terkait pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) karantina, termasuk protokol kesehatan.
"Pemda DIY cukup memastikan apakah hotel-hotel tadi telah menjalankan sop tersebut," paparnya.
Baca Juga: Hotel di Jogja Terdampak Pandemi Covid-19, Nur Dirumahkan Tanpa Kejelasan
PHRI diminta membuat SOP karantina karena lebih mengetahui kondisi di lapangan. Dalam SOP tersebut, PHRI harus mematuhi unsur-unsur dalam 5M.
Selain sepuluh hotel yang sudah siap, ada tambahan satu hotel lain yang bisa digunakan untuk isolasi mandiri. Empat hotel diantaranya dikhususkan untuk Warga Negara Asing (WNA) yang harus menjalani karantina.
"Tapi sebenarnya penerbangan WNA kan juga masih terbatas," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Kronologi Gubernur Bali Wayan Koster Diamuk Pegawai SPBU
- Wacana Gaji ASN Disalurkan Lewat Koperasi Merah Putih Dinilai Sebagai Langkah Mundur
- Indonesia Masuk Nominasi AFC Awards 2026, PSSI Bersaing dengan Kamboja dan Myanmar
- 4 Slip On Lokal Terbaik Menurut Review Pengguna, Empuk Buat Jalan Jauh hingga Jogging
Pilihan
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
-
Singapura Bongkar 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla, Ini Daftar Lengkapnya
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
Terkini
-
'Beautiful Pain' Tayang di Jogja, Kisah Perjuangan Single Mother Sukses Bikin Penonton Tersentuh
-
66 Daerah Belum Punya RS Tipe C, Pasien Kanker Berisiko Harus Berobat Jauh
-
BRI Peduli Perkuat Infrastruktur Desa di Cianjur, Jembatan Gantung Bantu Mobilitas 7.000 Warga
-
Daya Beli Warga Jogja Turun, Pedagang Terpaksa Pangkas Dagangan
-
Wacana Gaji ASN Dibayar Kopdes Bikin Geger, Pemda DIY Pusing, DPRD Sebut Tak Masuk Akal