SuaraJogja.id - Pemerintah telah secara resmi menyampaikan larangan mudik pada 6 Mei hingga 17 Mei 2021 mendatang. Kebijakan tersebut dibuat sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi. Masyarakat diminta untuk merayakan Idulfitri dari kediaman masing-masing.
Namun, keputusan tersebut menjadi dilema tersendiri bagi masyarakat yang terbiasa memanfaatkan momen Lebaran untuk berkumpul bersama keluarga. Penjagaan juga sudah dilakukan pemerintah di beberapa perbatasan antar-provinsi untuk mencegah pemudik melintas.
Salah satu karyawan perusahaan swasta di Yogyakarta, Memei Lantiva mengatakan bahwa kebijakan larangan mudik masih memiliki banyak celah yang membuatnya tumpul ke bawah, tetapi tajam ke atas. Seperti misalnya acara-acara orang kaya yang dibiarkan terselenggara. Sementara mayoritas warga yang mudik adalah masyarakat menengah ke bawah.
"Masih banyak celah untuk bisa melakukan mudik. Mobilitas yang tinggi, terutama saat ini akibat libur Lebaran yang pendek sehingga tidak terasa mudik," ujarnya.
Wanita 26 tahun asal Klaten ini menilai jika jumlah libur Lebaran tahun ini cukup pendek. Sehingga baginya, kegiatan mudik terasa hanya formalitas saja. Terlebih untuk perantau dari kawasan yang cukup jauh, mungkin akan lebih terasa.
Secara pribadi, ia tetap akan melakukan mudik dari Yogyakarta menuju ke Klaten. Kebetulan, dirinya juga dibekali surat perjalanan kerja dari kantornya untuk melakukan pekerjaan di wilayah perbatasan.
Terkait orang-orang yang nekat melakukan mudik di tengah situasi pandemi, Memei melihat pada seberapa jauh jarak yang ditempuh. Menurutnya, semakin jauh jarak yang ditempuh risiko untuk terpapar virus selama di perjalanan akan menjadi lebih tinggi.
"Buat yang nekat mudik juga sebaiknya tetap menjaga kondisi tubuh sendiri, menjaga penerapan protokol kesehatan dan tetap menjaga jarak serta sosialisasi bersama keluarga di rumah," imbuhnya saat dihubungi Minggu (9/5/2021).
Tahun sebelumnya, Memei juga tetap mudik di tengah situasi pandemi. Meski demikian, ia tetap menjaga jarak salah satunya dengan mengikuti salah Ied dari rumah dan tidak ikut berkeliling ke rumah-rumah tetangga. Sementara untuk menyapa saudaranya dari jauh Memei memanfaatkan teknologi panggilan video.
Baca Juga: Guntur Romli Minta Pria Ajak Mudik yang Sebut Rezim Setan Iblis Ditindak
Menurutnya, Lebaran sendiri menjadi momen yang paling ditunggu warga di desanya. Sebab, di luar momen Lebaran, biasanya sulit untuk bertemu dengan keluarga besar. Terutama orang-orang tua yang tidak akrab dengan teknologi seperti panggilan video dan sebagainya.
"Perasaan ku sebenarnya kalau dari aturannya juga merasa bersalah. Tapi tetap ingin mudik," tukasnya.
Meski merasa bersalah karena melanggar peraturan, tetapi Memei lebih merasa bersalah jika dirinya tidak pulang untuk perayaan Lebaran bersama keluarga besar. Terutama biasanya, ia bisa bertemu dengan sesama keluarga yang merantau di wilayah lainnya saat Lebaran di kampung halaman.
Berbeda halnya dengan gadis yang baru lulus dari perguruan tinggi negeri di Yogyakarta ini, Titi Soleh. Menurutnya, kebijakan larangan mudik cukup baik. Namun, pemerintah menjadi tidak konsisten dengan kabar datangnya warga negara asing ke Indonesia.
"Sebenarnya bagus-bagus aja, karena bisa membantu penurunan penularan Covid-19," ujarnya.
Hal lainnya yang kurang disetujui dari kebijakan tersebut adalah adanya kelas sosial yang membuat kebijakan terasa tajam ke bawah. Salah satunya, yakni kabar mengenai wanita mengaku anggota DPRD yang dibiarkan melewati Tol Ngawi tanpa dokumen kesehatan dan perjalanan.
Tahun 2021, merupakan keempat kalinya Titi tidak merayakan hari raya idul Fitri bersama keluarganya di Riau. Biasanya, Titi menyempatkan pulang ke rumah kerabatnya di Kebumen. Namun, sudah dua tahun belakangan sejak pandemi merebak dirinya hanya menghabiskan hari raya di Kebumen.
"Mungkin setelah selesai larangan mudik aku pulang ke Kebumen," imbuhnya.
Selanjutnya, Titi mengaku kemungkinan dirinya akan pulang ke Kebumen setelah kebijakan larangan mudik dicabut. Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan efek untuk sebagian orang. Ada beberapa celah masih bisa dimanfaatkan seseorang untuk mudik.
Berita Terkait
-
Guntur Romli Minta Pria Ajak Mudik yang Sebut Rezim Setan Iblis Ditindak
-
Jelang Lebaran, Tiga Pemudik di Sintang Terdeteksi Positif Covid-19
-
Mobil Nekat Tancap Gas Saat Diperiksa di Prambanan, Akhirnya Tertangkap
-
Asal Bukan Mudik, Warga Bekasi Tidak Perlu SIKM untuk ke Jakarta
-
Masih Ada Pemudik yang Lolos, Panewu Kotagede Beri Syarat Isolasi Mandiri
Terpopuler
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 6 Rekomendasi Sabun Mandi di Alfamart yang Wangi Semerbak dan Antibakteri
- Tembus Pelosok Bumi Tegar Beriman: Pemkab Bogor Tuntaskan Ratusan Kilometer Jalan dari Barat-Timur
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Pimpinan Komisi III DPR, Gantikan Rusdi Masse
Pilihan
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
Terkini
-
Jadwal Azan Magrib di Jogja pada 21 Februari 2026, Lengkap dengan Doa Buka Puasa
-
Ngabuburit di Jogja: 5 Destinasi Seru dan Ramah Kantong untuk Menanti Buka Puasa!
-
6 Fakta Guru SLB di Jogja Diduga Lecehkan Siswi Difabel, Kasusnya Kini Diproses Polisi
-
Diduga Lakukan Pemerasan, Polda DIY Nonaktifkan dan Patsus Anggota Satintelkam Polres Bantul
-
Pemkot Yogyakarta Pastikan Stok Bahan Pangan Selama Ramadan Aman, Masyarakat Diimbau Tak Panik