Menurutnya hal itu dimungkinkan belum adanya sosialisasi tentang bangunan tahan gempa. Sehingga menyebabkam banyak bangunan yang tak kuat menahan goncangan gempa.
Disebutkan Joko, konstruksi rumah yang tahan terhadap gempa sendiri tidak perlu dengan bahan-bahan yang tergolong paling kuat misal beton dan sebagainya. Namun yang terpenting adalah bangunan yang saling berkaitan.
“Kita tahu bahwa bangunan nenek moyang kita yang dulu dari kayu, kalau kena gempa tidak ambruk tapi hanya goyang. Walaupun kita pakai cor beton, tapi kalau tulangnya saling mengait diharapkan tidak akan mudah hancur,” terangnya.
Dalam memperingati 15 tahun pasca kejadian gempa ini, kata Joko, BPBD Sleman terus mengingatkan masyarakat untuk selalu tanggap bencana dalam situasi apapun. Sosialisasi terus dilakukan khususnya pada tiga wilayah yang menjadi daerah rawan.
Baca Juga: Merasa Gagal Jadi Pemimpin, Joko Menangis Kenang Gempa Bantul 2006
Joko menyebut penting bagi masyarakat untuk terus menanamkan budaya sadar bencana, sehingga diharapkan masyarakat lebih peduli dan siap pada potensi ancaman bahaya bencana alam yang ada di sekitarnya.
“Konsep kami adalah menanamkan budaya sadar bencana. Jadi harapannya dengan budaya sadar bencana di masyarakat, perilakunya lewat pengurangan risiko. Kalau merasa terancam dan berbuat untuk mengantisipasi, otomatis dia akan lakukan kegiatan pengurangan risiko,” ujarnya.
Guna memastikan bahwa setiap wilayah yang ada khususnya di daerah rawan Kabupaten Sleman lebih siap menghadapi bencana, Joko menyatakan telah membentuk sejumlah Kalurahan Tangguh Bencana. Terkhusus untuk bencana gempa sendiri diharapkan masyarakat mampu lebih bersiap lagi.
Meskipun memang saat ini belum ada secara pasti sistem peringatan dini. Namun setidaknya dampak atau risiko yang ditumbulkan akibat bencana gempa dapat diminimalisir baik dari kerusakan material maupun korban jiwa.
Baca Juga: Rawan Gempa Bumi, BNPB Canangkan Bangun Wahana Edukasi di Bantul
Berita Terkait
-
Menlu Sugiono Pastikan Belum Ada WNI yang Menjadi Korban Jiwa dalam Musibah Gempa Myanmar
-
Gempa Magnitudo 5 Guncang Mandalay, Myanmar Kembali Bergetar
-
Myanmar Umumkan 7 Hari Masa Berkabung, Min Aung Hlaing Minta Bantuan Malaysia Pasca Gempa Maut!
-
Telan Korban Jiwa 1.700 Orang, Ini Hal-hal yang Perlu Diketahui Tentang Gempa Myanmar
-
Korban Tewas Gempa Myanmar Naik Jadi 1.700, Pusat Kremasi di Mandalay Sampai Kewalahan
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
Terkini
-
Harga Kebutuhan Pokok di Kota Yogyakarta Seusai Lebaran Terpantau Stabil
-
Tiga Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Parangtritis, Satu Masih Hilang
-
Cerita UMKM Asal Bantul Dapat Pesanan dari Amerika di Tengah Naiknya Tarif Impor Amerika
-
Diserbu 110 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran, Tiket 50 Perjalanan KA YIA Ludes
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo