SuaraJogja.id - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Yogyakarta mengendus adanya dugaan penyalahgunaan dana kredit yang dilakukan dua perusahaan di Kota Jogja. Perusahaan (PT) dengan inisial KMAR dan DF menjadi perhatian penyidik Kejari Jogja yang diduga melakukan tindakan korupsi.
Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kota Yogyakarta, Lilik Andriyanto mengatakan pihaknya masih mendalami laporan dugaan korupsi itu.
"Sampai saat ini belum ada tersangka. Tapi ada dua perusahaan yang masuk dalam penyidikan kami," ujar Lilik dihubungi wartawan, Minggu (8/8/2021).
Ia membeberkan fakta bahwa PT KMAR dan DF adalah satu kepemilikan dengan orang yang sama. Bahkan bisnis itu dijalankan oleh keluarga."Faktanya, dia satu kepemilikan. Satu komisarisnya itu dia satu perusahaan lagi komisarisnya adalah ibu dia," ujar Lilik.
Dugaan korupsi itu bermula dari laporan Bank Jateng yang mengalami kerugian mencapai Rp14 miliar. Bank tersebut menawarkan bagi perusahaan untuk mengajukan kredit yang lolos atau menang kontrak dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
"Nah perusahaan ini menang kontrak terus. Lalu diajukan ke Bank Jateng yang punya program Kredit Proyek. Pihak bank membebaskan jaminan atau agunan pada perusahaan yang mengajukan kredit itu," ujar dia.
Dua perusahaan ini mengajukan ke bank dengan 39 proyek yang akan dikerjakan. Nilainya mencapai Rp62 miliar. Pengadaan barang tersebut berupa alat laboratorium seperti betratron dan alat viskometer.
"Jadi semacam alat laboratorium, nah ini masih kami dalami," katanya.
Menang kontrak dan dapat kredit dari Bank Jateng, perusahaan itu tak menunjukkan performa yang baik. Uang yang mereka dapat tidak diputar dan kurang memberi hasil.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 8 Agustus 2021
"Lalu Bank Jateng melakukan audit ternyata ada Rp14 miliar yang hilang atau kerugian bank," kata dia.
Sebanyak 30 saksi sudah diperiksa. Kendati demikian, Kejari belum mengantongi nama orang yang diperiksa menjadi tersangka.
Lilik mengatakan jika penyelidikan sudah dilakukan sejak Maret 2021. Dugaan tersebut dilaporkan saat proyek dikerjakan sejak 2018-2019.
"Proyek itu tersebar di Jawa, terutama di Jogja, Surabaya dan Jakarta," ungkap Lilik.
Tag
Berita Terkait
-
5 Orang Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Pembangunan Monumen Islam Samudera Pasai
-
Kasus Korupsi Bansos, Anak Bupati Bandung Barat akan Segera Diadili
-
Terbukti Sah Terlibat Korupsi, Jaksa Pinangki Akhirnya Dipecat dengan Tidak Hormat
-
Ketua Koperasi di Jogja Korupsi Parkir ABA Rp4,1 M, Walkot: Di Komaba Cari Duit Sana Sini
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Sempat Tak Pasti, PSEL Akhirnya Dibangun di Jogja, 1.000 Ton Sampah Disulap Jadi Listrik Tiap Hari
-
GEMPAR Ramaikan Pasar Balangan, Kuatkan Pedagang Lepas dari Jerat Rentenir
-
BRI Catat 501 Juta Transaksi BRILink Agen Hingga Juni 2026
-
Gempar! Pasar Balangan Sleman Mendadak Ramai, Penampilan Jathilan Jadi Magnet Warga
-
DIY Mulai Kering Kerontang, Bantuan Pusat Menunggu Status Darurat