SuaraJogja.id - Benda-benda lawas maupun antik biasanya dibuang begitu saja. Namun, di tangan penjual barang-barang bekas di Pasar Seni Gabusan (PSG) Bantul, barang itu bisa menghasilkan uang.
Seorang penjual barang di PSG, Mardevit Yulianto menuturkan baru berjualan di PSG kurang lebih sudah lima atau enam bulan. Menurutnya, kebanyakan orang yang membeli barang lawas untuk nostalgia.
"Orang beli karena senang mengingat masa lalu. Misal sepatu roda dulu waktu kecil enggak bisa beli, lalu pas dewasa sudah punya duit baru beli untuk mengenangnya," ujar dia, Rabu (8/9/2021).
Selain itu, orang yang membeli barang-barangnya untuk dipajang di rumah dan kafe. Barang paling unik yaitu radio atau kepala arca.
Untuk bisa mendapatkan barang-barang kuno, lanjutnya, memang ada yang hobi berburu. Lalu ada mereka setor ke pedagang.
"Yang disetor dari pemburu ke saya semisal guci atau porselen," ungkap pria yang sudah berjualan barang lawas sejak 1999 itu.
Meski ada orang yang menyetor barang-barang kuno kepada dirinya, dia juga bisa menyanggupi permintaan pelanggan jika ada yang minta dicarikan sesuatu.
"Kalau ada yang mencari bisa dibantu karena yang dipajang di sini hanya sebagian. Sisanya ada di rumah karena tidak mungkin dibawa semua," terangnya.
Katanya, barang-barang yang ia jual tak ada standar harga. Soal harga biasanya tergantung si pemilik barang.
Baca Juga: Curhatan Penjual Barang Antik di Semarang, Terpaksa Hutang untuk Beli Bensin dan Makan
"Enggak ada patokan harga tapi ada juga yang mematok, jadi terserah yang punya saja. Harganya mulai dari Rp50 ribu sampai puluhan juta. Yang mahal jam rolex bisa mencapai ratusan juta dan motor klasik, " ujarnya.
Dalam waktu sebulan, omzet yang ia dapat sekitar Rp10 juta. Omzet tersebut masih bisa bertambah apabila tidak ada pandemi Covid-19.
"Mungkin bisa lebih ya kalau sedang tidak pandemi. Sekarang kan belum bisa buat acara yang lebih besar untuk mengenalkan dagangan kami," katanya.
Adapun pembeli kebanyakan dari berasal dari wilayah Jogja. Namun, ada juga yang pembeli dari luar daerah atau mancanegara.
Terkait dengan merawat benda-benda tersebut, menurutnya, tidak terlalu rumit. Ia menyebut barang-barang lain hanya cukup rutin dibersihkan.
"Merawat motor-motor itu agak rumit karena harus sering diservis. Yang lain cuma kerap dibersihkan saja," ujar dia.
Berita Terkait
-
Curhatan Penjual Barang Antik di Semarang, Terpaksa Hutang untuk Beli Bensin dan Makan
-
Rekomendasi Tempat Wisata di Bali Murah
-
Kolektor Barang Antik Beberkan Harga Koin Peninggalan Belanda yang Ditemukan di Bandung
-
Gadis Misterius Indonesia Dapat Warisan Rp 8 M di Inggris, Siapa Dia?
-
Tempat Wisata di Ubud Bali, Hutan Hujan Hingga Terasering Padi
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Tuan Rumah JCWF & Munas DPP PUTRI 2026, Loman Park Hotel Dorong Sinergi Wellness-Pariwisata
-
Perempuan Tak Punya Pilihan Berhenti Haid, Pajak Pembalut 11 Persen Dinilai Nodai Keadilan Gender
-
Kota Jogja Vs Gunungkidul: Jarak Kualitas Hidup Ini Ternyata Masih Jauh!
-
Dinkes Sleman Catat 112 Kasus Leptospirosis hingga Oktober 2026, Dua Meninggal Dunia
-
BRI Hadirkan Keistimewaan Pendidikan Anak bagi Nasabah Private dan Prioritas