Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Senin, 13 September 2021 | 08:48 WIB
Peternak ayam petelur di Gunungkidul sedang merapikan telur hasil panen untuk dijual ke konsumen. [Kontributor / Julianto]

SuaraJogja.id - Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang ini dirasakan oleh para peternak ayam petelur di kabupaten Gunungkidul. Usaha mereka sudah mulai menurun akibat serangan virus yang terjadi sejak lebaran kemarin dan kini diperparah dengan hancurnya harga telur.

Suroso peternak ayam petelur di di kapanewon Patuk mengaku sejak lebaran kemarin usahanya semakin sulit. Ayam-ayam yang ia pelihara banyak yang mati karena diterjang virus. Upayanya untuk mengurangi dampak virus tersebut nampaknya kurang berhasil.

"Sudah saya kasih obat terus kandangnya materi desinfektan tetapi tak manjur juga,"paparnya, Minggu (11/9/2021).

Dirinya mencoba bertahan untuk tetap memelihara ayam petelur meskipun jumlahnya kini sudah menyusut. Namun lagi-lagi ya harus menanggung kerugian yang cukup besar mengingat harga pakan saat ini sudah melejit sementara di satu sisi harga harga telur sudah anjlok.

Baca Juga: Bersama Istri, Oknum ASN di Gunungkidul Bawa Lari Mobil Rental yang Digadaikan

harga jual telur dipasar saat ini hanya berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu, sedangkan dari perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) telur perkilogram mencapai Rp 21 ribu lebih. Kondisi ini tentu memberatkan untuk mereka para peternak ayam petelur.

"Para peternak ayam petelur di Kabupaten Gunungkidul saat ini sedang mendapatkan pukulan telak,"keluhnya.

Salah seorang peternak ayam petelur di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Mantoro menuturkan, sejak beberapa waktu terakhir ini, harga jual telur ayam memang terus menurun. Bahkan saat ini, per kilogram telur ayam hanya dihargai Rp. 17 ribu per kilogram. Menurutnya, harga jual ini tak sebanding dengan biaya produksi yang cukup besar. Tak heran apabila kemudian, ia terus merugi. 

“Harga telurnya murah banget, sedangkan harga pakannya naik terus,” keluh Mantoro, Minggu (12 09 2021) siang. 

Mantoro menambahkan, sulitnya impor pakan masuk ke Indonesia diduga menjadi penyebab mahalnya harga pakan ayam petelur. Setiap harinya, ia harus mengeluarkan uang Rp. 2 juta lebih hanya untuk membeli pakan. Situasi sendiri semakin sulit lantaran di tengah naiknya harga pakan itu, harga jual hasil telur tak bisa diharapkan untuk menutupnya. 

Baca Juga: Buron Kasus Korupsi Rp5,2 Miliar, Lurah Serahkan Diri ke Mapolres Gunungkidul

“Tidak masuk sama sekali kalau dihitung, sementara mau stop ternak ayam petelur dulu,” jelasnya. 

Load More