SuaraJogja.id - Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang ini dirasakan oleh para peternak ayam petelur di kabupaten Gunungkidul. Usaha mereka sudah mulai menurun akibat serangan virus yang terjadi sejak lebaran kemarin dan kini diperparah dengan hancurnya harga telur.
Suroso peternak ayam petelur di di kapanewon Patuk mengaku sejak lebaran kemarin usahanya semakin sulit. Ayam-ayam yang ia pelihara banyak yang mati karena diterjang virus. Upayanya untuk mengurangi dampak virus tersebut nampaknya kurang berhasil.
"Sudah saya kasih obat terus kandangnya materi desinfektan tetapi tak manjur juga,"paparnya, Minggu (11/9/2021).
Dirinya mencoba bertahan untuk tetap memelihara ayam petelur meskipun jumlahnya kini sudah menyusut. Namun lagi-lagi ya harus menanggung kerugian yang cukup besar mengingat harga pakan saat ini sudah melejit sementara di satu sisi harga harga telur sudah anjlok.
harga jual telur dipasar saat ini hanya berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu, sedangkan dari perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) telur perkilogram mencapai Rp 21 ribu lebih. Kondisi ini tentu memberatkan untuk mereka para peternak ayam petelur.
"Para peternak ayam petelur di Kabupaten Gunungkidul saat ini sedang mendapatkan pukulan telak,"keluhnya.
Salah seorang peternak ayam petelur di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Mantoro menuturkan, sejak beberapa waktu terakhir ini, harga jual telur ayam memang terus menurun. Bahkan saat ini, per kilogram telur ayam hanya dihargai Rp. 17 ribu per kilogram. Menurutnya, harga jual ini tak sebanding dengan biaya produksi yang cukup besar. Tak heran apabila kemudian, ia terus merugi.
“Harga telurnya murah banget, sedangkan harga pakannya naik terus,” keluh Mantoro, Minggu (12 09 2021) siang.
Mantoro menambahkan, sulitnya impor pakan masuk ke Indonesia diduga menjadi penyebab mahalnya harga pakan ayam petelur. Setiap harinya, ia harus mengeluarkan uang Rp. 2 juta lebih hanya untuk membeli pakan. Situasi sendiri semakin sulit lantaran di tengah naiknya harga pakan itu, harga jual hasil telur tak bisa diharapkan untuk menutupnya.
Baca Juga: Bersama Istri, Oknum ASN di Gunungkidul Bawa Lari Mobil Rental yang Digadaikan
“Tidak masuk sama sekali kalau dihitung, sementara mau stop ternak ayam petelur dulu,” jelasnya.
Bagaimana tidak, dengan populasi 3.000 ekor ayam petelur yang ia milik, saban harinya ia membutuhkan kurang lebih 360 kilogram pakan. Sementara hasil yang ia dapatkan yakni telur 150 kilogram per hari. Jumlah ini tentu saja tidak cukup untuk menutup biaya produksinya. Alhasil, setiap harinya ia harus tombok.
Terpisah, Ketua Paguyuban Unggas Handayani, Subandi menyampaikan, hampir kurang lebih satu tahun ini para peternak terus dihantam dengan persoalan mahalnya harga pakan. Ia menyebutkan saat ini harga pakan mencapai Rp 6600/kg.
"Hampir satu tahun ini kita sedang prihatin, dengan harga jual telur Rp 16 ribu, kami harus menanggung kerugian sekitar Rp 6 ribu perkilogramnnya,"ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga pakan ini disebabkan mahalnya harga campuran pakan seperti jagung dan konsentrat. Normalnya harga jagung hanya berkisar Rp 3800 sampai Rp 4000, namun saat ini harga bahan pokok pakan mengalami kenaikan hingga Rp 20% sehingga kondisi ini semakin memberatkan peternak. Padahal, 50% komponen pakan menggunakan jagung.
Ia menyebut jumlah peternak di Gunungkidul itu ada sekitar 300an yang tergabung di Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia Pinsar Petelur Nasional. Dari 300 peternak sudah ada beberapa yang berhenti produksi, kalau tidak ada perubahan atau bantuan dari pemerintah, kemungkinan dirinya juga akan
berhenti produksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Penjualan Hewan Kurban di Sleman Lesu, Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet
-
Petani Jogja Makin Terjepit! Biaya Angkut dan Karung Mahal Gegara BBM Naik, Kesejahteraan Merosot
-
Diduga Keracunan Makanan Pamitan Haji, 43 Warga Sleman Alami Diare dan Demam
-
Menyambut Derby DIY di Super League Musim Depan, Bupati Sleman: Hilangkan Rivalitas Tidak Sehat
-
Viral Pelari di Jogja Dipukul OTK Saat Ambil Minum, Begini Kronologinya