Gedung yang terletak di seberang Pasar Kranggan Jalan Diponegoro, tampak tua dan kusam. Kaca jendelanya dipenuhi debu. Bangunan tiga lantai ini, kini dipakai untuk kantor salah satu biro iklan.
Dari dalam gedung, ruangnya bersekat-sekat. Beberapa kursi dan meja tampak tak beraturan. Sementara di depan gedung dipakai untuk berjualan warga. Mereka juga tak tahu sejarah gedung berdesain kotak-kotak tersebut.
Sri Murhayati kemudian menunjukkan ruang interogasi, penyiksaan, dan penahanan. Letaknya ada di lantai 2.
“Kalau di lantai 2 lokasi orang disiksa. Dulu kalau kita mau antre diperiksa itu duduk dekat lorong ini. Penyiksaan di lantai atas, kalau di bawah ini dipukuli pakai kaki kursi, ditelanjangi. Ada petugas mau pegang saya, langsung saya tampar, tapi saya malah dipukuli. Pistol itu sudah ditaruh di depan mata saya. Saya tidak takut,” ungkapnya.
Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin bercerita, penelusuran fakta terkait peristiwa 1965 di Yogyakarta berpusat di Gedung Jefferson. Sehingga, kata dia, perlu adanya pengungkapan kebenaran di lokasi ini.
“Dalam catatan sejarah dan laporan Komnas HAM juga sudah jelas ada penyiksaan, penganiayaan, dan pembunuhan massal di lokasi ini. Jadi kami ingin melihat gedung itu sebagai sebuah sejarah yang harus diakui, diluruskan kebenaran sejarah bangsa ini sehingga lebih terbuka dan jelas, supaya tidak berulang,” ujar Mariana.
Perjalanan bergeser ke Benteng Vredeburg yang persis berada di depan Gedung Agung –Kraton Kesultanan Yogyakarta. Lantaran berada di kawasan perdagangan Malioboro dan Pasar Beringharjo, benteng ini ramai dikunjungi wisatawan. Kami pun masuk dengan membayar tiket seharga Rp2000.
Sri Murhayati bersama tim dari Komnas Perempuan, lalu memasuki ruang diorama 1 dan 2 yang berisi sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk perjuangan di Yogyakarta. Namun, tak ada secuil pun kisah tentang tragedi 1965/1966 –dimana benteng ini pernah menjadi kamp penjara tahanan politik.
Menuju ke bagian belakang benteng, Sri menunjukkan sebuah pintu masuk ke ruang tahanan bawah tanah, saat dirinya dipenjara. Perempuan sepuh ini juga memberitahu adanya tiga lubang kecil yang terdapat ruang gelap tersebut. Kata Sri, ketiga celah itu digunakan untuk menyelundupkan makanan.
Baca Juga: Sengkuyung Penanganan Pandemi, Seniman Yogyakarta Lelang Lukisan Bersama
“Di lubang ini kadang ada kiriman makanan, memang kalau pakai tangan tidak cukup. Sempit. Tapi ya pakai cara biar makanan bisa masuk ke ruang gelap ini,” tukas Sri.
Pendamping para bekas tahanan politik dari Forum Pendidikan dan Perjuangan Hak Asasi Manusia (Fopperham), Noor Romadhon mengatakan, peristiwa 1965 harus diungkap sebagai sebuah pengungkapan kebenaran.
“Kami berharap banyak pada memorialisasi ini. Khususnya, di Benteng Vredeburg. Harapan kami pemerintah bisa mengakomodir sejarah tahun 1965 dan berikutnya di lokasi ini. Kalau suatu saat ada yang berkunjung ke lokasi Benteng tidak ada keterangan sejarah lokasi ini, padahal bapak-bapak dan ibu-ibu mantan tahanan politik ini pernah disiksa, dipenjara bawah tanah. Ini fakta sejarah. Jangan dihilangkan,” tutur Noor Romadhon.
Tag
Berita Terkait
-
Beredar Kabar Istana Resmikan PKI Berdiri Lagi di Indonesia, Begini Faktanya
-
Faktor Penyebab G30S PKI yang Menewaskan 6 Jenderal dan Satu Perwira
-
DPR Minta TNI Jelaskan Tudingan Gatot Nurmantyo Soal Hilangnya Diorama G30S/PKI
-
Bongkar Diorama G30S PKI di Museum Kostrad, Letjen TNI Purn Azmyn Hatinya Kini Tenang
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
BRI Sediakan Kemudahan dalam Menerima dan Mengelola Kiriman Dana untuk Keluarga PMI
-
Ekonom UGM Wanti-wanti: Jangan Sampai WFH Demi Hemat BBM 'Bunuh' Warung dan Ojol
-
Waspada Campak Mengintai di Musim Liburan: Kenali Gejala, Komplikasi, dan Pentingnya Vaksinasi!
-
Ingin Berwisata ke Lereng Merapi saat Libur Lebaran, Simak Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Sepekan
-
Ribuan Warga Ngalap Berkah Garebeg Syawal, Tradisi Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi