SuaraJogja.id - Puluhan miniatur rumah dan bangunan masjid berjejer di depan teras kios Jalan Kiyai Mojo, Kelurahan Bumijo, Kemantren Jetis, Kota Jogja, Senin (18/10/2021) sore. Tergantung sebongkah triplek bertulis Furniture di tembok kios yang sudah tak digunakan pemiliknya berjualan.
Seorang pria 40 tahunan bergegas mendekati puluhan miniatur itu usai memarkirkan motor pengendara yang tidak jauh dari kios setempat. Suwarno, pria pemilik miniatur itu menjelaskan konsep bangunan yang dibuat dan dipamerkan di kios tak terpakai itu
"Sebenarnya ini hanya hobi saya saja. Konsep ini hanya membuat rumah modern dan rumah panggung yang tradisional, kebetulan saya memang suka dengan model-model rumah panggung itu," terang Suwarno ditemui SuaraJogja.id, Senin.
Pria asal Bumijo itu mengaku sejak tahun 2018, dirinya sudah membuat miniatur rumah panggung seorang diri. Biasanya dia kerjakan di depan kios yang tepar berada di depan Pasar Pingit itu. Selama 3 tahun menjalankan hobinya, sudah ada 75 karya yang dia buat.
"Ada 75 miniatur, yang sudah saya buat. Jadi sambil jadi juru parkir, saya juga membuat miniatur ini. Ya agar lebih produktif saja," terang bapak dua anak ini.
Berkisah dengan hobinya itu, satu miniatur bisa diselesaikan 1-2 bulan lamanya. Itu juga tergantung besar kecilnya ukuran.
Suwarno membuat miniatur dari bekas triplek yang tidak terpakai. Terkadang dirinya mendapat sisa potongan kayu jati yang dia ambil dari sekitar rumahnya.
"Jadi ada toko di dekat rumah saya yang biasa membuang bekas triplek. Ada juga kayu tapi sudah tidak terpakai. Nah itu saya minta, karena boleh oleh pemilik ya sudah saya buat miniatur ini," katanya.
Menjadikan potongan triplek dan kayu menjadi bangunan rumah, Suwarno tidak mendesain atau menggambar dulu di atas kertas. Dia langsung membayangkan dan membuat uliran serta bangunan sesuai kreativitasnya.
Baca Juga: Cuma di Tebing Breksi Jogja, Ini 3 Aktivitas Seru yang Bisa Kamu Lakukan Saat Liburan
"Jadi hanya pakai cutter, gergaji untuk memotong dan membuat uliran bangunannya. Nanti tinggal ditempel pakai lem fox untuk merekatkan, setelah jadi dan dikeringkan di bawah sinar matahari baru saya cat," jelas dia.
Memiliki hobi dan keahlian membuat miniatur sejak remaja, Suwarno baru melakukan lebih serius di usianya saat ini. Tak jarang hasil karyanya dia jual dan ditawar orang yang melintas.
"Saya juga iseng memamerkan di depan kios ini. Kebetulan ada orang lewat dan ditawar harganya. Saat itu masih saya lepas dengan harga murah, Rp80-150 ribu yang ukuran kecil," katanya.
Sadar karyanya bisa mendatangkan pundi-pundi pendapatan, Suwarno lebih giat membuat miniatur. Saat ini dirinya membuat miniatur yang lebih besar lagi ukuran 50x50 cm. Harganya pun juga dia naikkan, mulai Rp200-500 ribu.
"Tapi tetap sebagai juru parkir di sini, miniatur ini hanya hobi. Laku atau tidak bukan jadi masalah," terang dia.
Banyak miniatur yang dia buat dan ada yang terjual, tetapi dirinya belum berpikir untuk menyewa kios.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Viral Dugaan Penipuan Tes TOEFL saat MPLS, Disdikpora DIY Tegaskan Nama Dinas Dicatut
-
LoI Sinergi BRI Taipei Dengan KDEI: Berikan Literasi Keuangan Bagi Pekerja Migran Indonesia
-
Swiss-Belhotel Airport Yogyakarta Gelar 2nd Fun Kids Swimming Competition
-
Mandiri Looping for Life di Road to INACRAFT Festival 2026: Rawat Warisan, Gerakkan Keberlanjutan
-
MPLS Berakhir, MBG jadi Pengalaman Pertama Mencicipi Buah Impor bagi Siswa di Sekolah Kecil Jogja