"Saya belum dapat surat resmi kalau lokasi berjualan ini akan digusur," ujar Tri kepada SuaraJogja.id, Selasa (2/11/2021).
Tri menyatakan bahwa pihaknya memang menempati sultan ground yang sepengetahuan dirinya lahan itu dipinjamkan untuk warga berjualan. Tri berharap pemerintah bisa lebih terbuka untuk memberitahu rencana penataan yang akan berdampak pada penghidupannya.
Lebih lanjut dirinya juga mempertanyakan terkait pengelola pasar yang tidak mau menerima uang retribusi yang wajib dibayarkan tiap bulannya. Kekhawatirannya ketika tidak dibayarkan dan menumpuk, menjadi dalih untuk meminta pedagang hengkang dari lokasi itu.
"Selama Januari-Oktober kemarin mereka tidak mau menerima, alasannya hanya nanti saja. Saya khawatir kalau ada orang (petugas) datang lalu meminta retribusi yang sudah menumpuk, jika kami tidak bisa melunasi, bisa saja dipersoalkan," keluh dia.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Wishlist Steam Menumpuk? Ini 5 Cara Menyiasati Musim Diskon Besar
-
Sukses di Jogja, ZAP Fest 2026 Siap Sambangi 2 Kota Lain dengan Konsep Beauty, Music, dan Lifestyle
-
Simposium Khatulistiwa 2026 Refleksikan Etik Perawatan dalam Praktik Kuratorial Melalui Niti Rumat
-
Pembukaan Sawit Dicap Pemicu Karhutla, Lahan Terlantar Diklaim Justru Jadi Ancaman
-
Pungli Parkir Terus Berulang, Kabupaten/Kota Jogja Didesak Tak Sekadar Buat Aturan