SuaraJogja.id - Berusaha untuk tak jadi beban bagi banyak orang tampaknya begitu kuat tertanam di hati Andika Indra Saputra (34). Meski hidup dengan cerebral palsy, tampaknya hal tersebut tak menyurutkan semangat Andika untuk melanjutkan hidup.
Andika, nama panggilan dia, sehari-hari dia menjual makanan mentah, yaitu karak (kerupuk berbahan beras), rengginan (kerupuk berbahan beras ketan), juga tisu. Dengan motor roda tiga, Andika berkeliling menawarkan dagangannya. Mengoptimalkan media online whatsapp juga facebook, strategi lain yang dibangunnya. Berapapun pesanan (order) yang diterima, Andika akan mengantarkan (delivery) hingga alamat pemesan, tanpa meminta ongkos kirim.
Berjualan makanan mentah dan tisu telah dilakoni Andika, sebelum pandemi. Bersama sang istri Yuni Lestari (31), Andika menjalankan usaha berdagang makanan mentah sejak 2018 silam.
Dikutip dari Solider.id, Andika, dengan kondisi yang menyertai, dia adalah pahlawan bagi keluarga. Selain menafkahi istri dan anaknya, Andika juga harus menanggung biaya rumah tangga mertuanya. Membayar listrik, membantu kebutuhan sehari-hari. Sekuat tenaga, tanggung jawab itu dipikulnya. Tanpa pernah mengeluh. Andika mengaku justru bahagia bisa melakukannya.
Mengapa harus Andika? Menurut penuturan Andika, mertuanya tidak bekerja. Usia ibu (60), sedang ayah (80). Yuni anak bungsu dari tujuh bersaudara. Kehidupan kakak-kakaknya tak lebih baik dari keluarga Andika. Karenanya, Andika merasa harus bertanggung jawab atas kebutuhan hidup orang tua dari istrinya itu. Sejak menikah hingga tulisan ini dilansir, Andika tinggal di rumah keluarga istrinya, di Kongklangan, Tawangsari Teras, Boyolali, Jawa Tengah.
Andika juga menuturkan, bahwa dia mendapatkan dagangannya di Boyolali. Sedang Yogyakarta, ialah wilayah dia menjual barang dagangannya. Dengan motor roda tiganya, dua minggu satu kali, Andika ke Boyolali. Selain mengunjungi keluarga, dia juga kulakan. Dagangan dibayar saat terjual. Andika mengaku terbantu dengan sistem itu. Berat, kata dia, jika kulakan langsung membayar. Dan dengan bawa barang dulu itu, Andika mengaku bersemangat berjualan. Selain harus segera bisa membayar dagangan yang di bawa, juga bisa membelikan susu anak balitanya.
Jauh ke belakang sebelum dia berjualan bahan makanan mentah, Andika sudah berjualan puzzle. Permainan edukatif menggabungkan potongan-potongan bentuk menjadi sebuah pola atau gambar. Dia menjual puzzle dengan berkeliling sekolah-sekolah PAUD maupun TK di Wilayah Yogyakarta. Pada hari-hari tertentu, yaitu Sabtu dan Minggu, Andika berjualan puzzle di taman bermain anak-anak Denggung, Sleman.
Dari berjualan sebelum masa pandemi, Andika bisa mendapatkan keuntungan bersih antara Rp500 ribu sampai dengan Rp1,5 juta per bulan. Penghasilan yang cukup untuk menafkahi istri, anak, juga mertuanya.
Namun, pada masa pandemi, Andika mengaku penghasilannya menurun drastis hanya Rp200 – Rp300 ribu per bulan. Dengan pendapatan yang turun drastis, Andika tetap berusaha membantu keluarganya.
Baca Juga: 4 Penyebab Setelah Menikah Teman Menjadi Sedikit, Sadar Tidak?
Kebijakan pembatasan sosial yang beberapa waktu lalu diberlakukan di Yogyakarta, membuat Andika tak bisa bertransaksi atau bertemu langsung dengan pembeli. Ia pun hanya mengandalkan whatsapp. Jika order datang Andika akan mengantar pesanan, meletakkannya pada pagar rumah pemesan. Selanjutnya mengirim pesan, memberi kabar bahwa dagangan sudah ditaruh. Pembayaran dilakukan dengan cara transfer.
“Kalau ada pesanan, saya mengantar sampai pagar. Tidak masuk ke dalam rumah. Pesanan saya centelkan di pagar, lalu saya memberi tahu melalui whatsapp. Pembayaran ditransfer. Ada yang transfer sebelum pesanan diterima, ada juga setelah pesenan diterima,” ujar Andika.
Menjaga asa
Anak pertama dari tiga bersaudara ini, lahir di Cirebon, 5 Oktober 1987. Menjadi difabel tidak dari lahir melainkan pada usia balita, 3 tahun, dimana saat itu iba-tiba badan panas tinggi lalu kejang-kejang. Andika kecil tidak pernah dibawa ke dokter. Orang tuanya menganggap bahwa anaknya hanya butuh dibawa ke dukun diurut atau dijampi-jampi. Dengan kondisi yang sesungguhnya cerebral palsy, Andika juga tidak pernah mengenal terapi hanya dipijit oleh tukang urut.
Alhasil tangan dan kaki Andika semakin kaku, berbicara juga tidak begitu jelas. Demikian, Andika mengulang penuturan ibunya tentang kisah kedifabilitasannya. Namun Andika tak pernah menyalahkan keadaan. Dia bahkan merasa bersyukur, hingga di usia 34 tahun ini, dirinya masih sanggup berjuang dan berusaha.
Meski pendapatannya turun drastis, sementara 1 kilo gram susu harus dibeli untuk putrinya. Andika terus menyalakan asa. Untuk menambah penghasilan, Andika mengikuti sahabatnya, bernama Joko berkeling dari TK ke TK.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
Terkini
-
Diduga Keracunan Makanan Pamitan Haji, 43 Warga Sleman Alami Diare dan Demam
-
Menyambut Derby DIY di Super League Musim Depan, Bupati Sleman: Hilangkan Rivalitas Tidak Sehat
-
Viral Pelari di Jogja Dipukul OTK Saat Ambil Minum, Begini Kronologinya
-
Resmi Promosi, Bupati Sleman Minta PSS Jaga Komitmen di Super League: Jangan Sampai Turun Kasta Lagi
-
Coretan Umpatan di Little Aresha Semakin Banyak, Psikolog UGM Tegaskan Mengikat Anak Tak Dibenarkan