Galih Priatmojo
Salah seorang karyawan kedai Jamu Ginggang menunjukkan salah satu produknya yakni jamu lelaki. [Galih Priatmojo / suarajogja.id]

SuaraJogja.id - Saat membuka perhelatan The 2nd Asian Agriculture and Food Forum atau ASAFF pada 12 Maret 2020 di Istana Negara, Presiden Jokowi membeberkan rahasianya agar tetap prima. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku rutin mengonsumsi minuman jamu berupa campuran temulawak, jahe, sereh hingga kunyit sebanyak tiga kali sehari.

Kebiasaan Jokowi menenggak jamu nyatanya bukanlah sesuatu yang baru. Menengok jauh ke belakang, mengonsumsi jamu sudah dilakukan bahkan jadi tradisi para kaum elite kerajaan atau keraton hingga para bangsawan.

Jamu diketahui berasal dari bahasa Jawa Kuno yakni jampi atau usada yang bermakna penyembuhan memakai ramuan obat-obatan atau doa serta ajian. Dulu, masyarakat Jawa meyakini bahwa resep kuno mengenai jamu diturunkan kepada para dukun dan para keluarga keraton berupa wahyu mistis melalui mimpi dan meditasi.

Bukti Sejarah Jamu

Baca Juga: Staycation Semakin Nyaman di Hyatt Regency Yogyakarta dengan Fasilitas Ini

Bukti otentik jamu telah digunakan sejak lama oleh masyarakat nusantara, khususnya Jawa, salah satunya bisa ditemukan dalam relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Pada relief tersebut tergambar seseorang yang memberi pertolongan pada seorang yang sakit dengan cara memijit kepala, serta memberi semangkuk obat yang diperkirakan sebagai jampi atau jamu.

Candi Borobudur saat One Day Tour VW Ride Borobudur Magelang,Minggu (6/6/2021) (Suara/Hiromi)

Pada bagian lain relief tersebut juga tergambar sejumlah bahan ramuan yang terdiri dari tanaman sebagai obat. Di antaranya tanaman semanggen, Jamblang, Pandan serta Maja yang diperkirakan didapat dari lingkungan sekitar.

Selain dari relief Candi Borobudur, bukti lain mengenai keberadaan jamu juga tertuang pada manuskrip kuno. Hal tersebut seiring dengan makin populernya istilah jampi di kalangan elite keraton atau kerajaan pada abad 15-16 Masehi.
Beberapa manuskrip kuno yang memuat keberadaan jamu di antaranya Serat Centini yang disusun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara III yang dibantu para pujangga Keraton Surakarta yang ditulis pada 1814 hingga 1823.

Lalu Serat Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi pada 1831 yang berisi catatan kumpulan ramuan obat asli masyarakat Jawa yang ditulis berdasar perintah Sri Susuhunan Pakubuwono V. Dimana dari total 1.166 tulisan ada sebanyak 922 resep berisi ramuan bahan alam sementara 244 resep lainnya berupa mantra hingga jimat yang konon dipercaya dapat menyembuhkan sejumlah penyakit.

Kemudian ada pula tulisan dari seorang Belanda yakni Jan Kloppenburg-Versteegh yang mendedahkan mengenai beragam manfaat tanaman serta resep berbahan alami untuk mengobati sakit perut, ambeien hingga malaria. Tulisan tersebut termuat dalam buku Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindia Miwah Dayanipun Kangge Jampi terbitan tahun 1911 yang kemudian dialihaksarakan oleh Pradnya Paramita Hapsari pada 2011.

Baca Juga: Liputan Khusus: Menjegal Perdagangan Anjing di Yogyakarta

Tulisan lain mengenai jamu juga tercatat dalam Serat Primbon Jampi Jawi pada 1933 serta Kitab Primbon Betaljemur Adammakna pada 1939 yang merupakan catatan lengkap mengenai pengobatan tradisional dari Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang diterbitkan oleh Raden Somodidjojo.
Seiring berjalannya waktu, pengetahuan pengobatan tradisional jamu yang semula hanya dikenal di lingkungan keraton menyebar hingga ke luar benteng . Para abdi dalem yang bertugas sebagai tabib atau peracik jamu keraton punya andil dalam penyebaran resep jamu tersebut.

Komentar