SuaraJogja.id - Upaya mendeteksi keberadaan virus corona penyebab Covid-19 dilakukan Tim dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) dengan meneliti air limbah.
"Penelitian tentang limbah ini mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 dari limbah. Bisa jadi alternatif ketika banyak orang terpapar COVID-19 namun biasanya tidak memiliki gejala," kata Ketua Pusat Kajian Penelitian Kesehatan Anak-PRO FKKMK UGM Dr. dr. Ida Safitri seusai melakukan audiensi dengan Wagub DIY Paku Alam X di Kepatihan, Yogyakarta, Selasa.
Ia mengatakan, penelitian limbah tersebut dapat menjadi alternatif mengingat proses pelacakan kasus COVID-19 (tracing) kerap kali mengalami kendala di lapangan.
"Tidak mudah ya untuk 'tracing', yang tidak bergejala kan juga kadang tidak bersedia di-swab (tes usap). Kita ambil sistem buangan limbah ini hasilnya bisa kita jelaskan mana saja yang terdeteksi virusnya dan dihubungkan dengan kasus transmisi yang ada di wilayah sekitar situ," ujar Ida.
Kepada Wagub DIY, kata dia, tim dari FKKMK UGM melaporkan bahwa progres penelitian yang berlangsung sejak Juli 2021 bekerja sama dengan berbagai pihak, tidak hanya Indonesia namun juga negara lain.
Peneliti Utama Surveillance COVID-19 air limbah dan lingkungan, dr. Indah Kartika Murni, menjelaskan bahwa "sampling" penelitian dilakukan di tiga wilayah di DIY yakni Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul dengan masing-masing 10 kecamatan.
"Sampelnya dari manhole, sungai, lingkungan sekitar, tempat berkerumun seperti pasar, rusunawa, masjid, dan sebagainya," ujar dia.
Sampel yang berhasil dihimpun, kata dia, kemudian diserahkan kepada laboratorium mikrobiologi untuk diperiksa dengan proses selama dua hari kerja.
Indah mengatakan penelitian itu dilakukan saat kasus penularan COVID-19 mengalami lonjakan seperti pada Juli 2021.
Baca Juga: Tekan Penyebaran COVID-19, Polres Gunungkidul Bakal Amankan 17 Objek Vital Saat Nataru
"Waktu itu, dengan metode ini di mana tingkat penularan mencapai 80 persen yang digambarkan melalui deteksi air limbah juga hasilnya sama yaitu 80 persen positif. Bagusnya kalau lewat limbah itu, hasilnya bisa diketahui lebih awal dibandingkan dari hasil PCR," katanya. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Tekan Penyebaran COVID-19, Polres Gunungkidul Bakal Amankan 17 Objek Vital Saat Nataru
-
Bupati Sleman Minta Satgas Covid-19 Tingkat RT Ikut Awasi Pemudik Saat Libur Nataru
-
Jelang Nataru, PHRI DIY Minta Pemerintah juga Awasi Hotel dan Restoran Non Anggota
-
Berpotensi Menjadi Kluster COVID-19, Pemkot Solo Bakal Lakukan Surveilans di PTM
-
Binda Jatim Gelar Vaksinasi Massal di 38 Kabupaten/Kota, Targetkan 200 Ribu Dosis
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Dominasi Lapangan, SMK Nusantara dan MAN 1 Kabupaten Sukabumi Jadi Juara AXIS Nation Cup 2026
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM