Scroll untuk membaca artikel
Eleonora PEW | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 27 Januari 2022 | 18:40 WIB
Luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (15/8/2021). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

SuaraJogja.id - Badan Geologi Kementerian ESDM melakukan pemutakhiran data terbaru sekaligus evaluasi terkait aktivitas Gunung Merapi. Hasilnya terdapat perubahan rekomendasi bahaya yang ada di sisi selatan-barat daya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono dalam keterangan tertulisnya menyatakan bahwa pemutakhiran rekomendasi bahaya ini dilakukan seiring dengan perkembangan aktivitas erupsi saat ini.

Perubahan rekomendasi bahaya itu ada di selatan-barat daya yang meliputi tiga alur sungai yang awalnya 5 kilometer menjadi 7 kilometer.

"Jadi potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan – barat Daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km. Lalu Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km," kata Eko Budi, Kamis (27/1/2022).

Baca Juga: Badan Geologi: Kubah Lava Gunung Merapi Tumbuh Hingga 10 Ribu Meter Kubik Per Hhari

Dijelaskan Eko, sebelumnya rekomendasi bahaya terakhir ditetapkan pada tanggal 25 Juli 2021. Saat itu daerah bahaya guguran lava dan awan panas berada pada sektor selatan dan juga barat daya.

Daerah bahaya itu meliputi Sungai Boyong, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng yang masih direkomendasikan sejauh 5 km. Kemudian pada sektor tenggara masih sama dengan rekomendasi terbaru yakni meliputi Sungai Woro 3 km dan Sungai Gendol 5 km.

"Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak (sama dengan rekomendasi sebelumnya)," ujarnya.

Lebih jauh, kata Eko, evaluasi yang sudah dilakukan bahwa aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Fase erupsi efusif ini bahkan sudah berlangsung lebih dari satu tahun dengan pertumbuhan kubah laba dan pembentukan guguran lava serta awan panas.

Kemudian perubahan topografi lereng akibat aktivitas erupsi juga berpengaruh kepada potensi bahaya guguran dan awan panas berikutnya.

Baca Juga: Aktivitas Gunung Merapi, Awan Panas Guguran Meluncur ke Kali Bebeng

"Untuk itu perlu dilakukan pemutakhiran penilaian bahaya guguran dan awan panas menggunakan data topografi terbaru," terangnya.

Load More