SuaraJogja.id - Pekerja perempuan yang salah satunya berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) ternyata sangat rentan akan pelecehan seksual. Mereka tidak memilik jaminan keamanan saat bekerja menjadi pengemudi di jalanan.
Apalagi bila mereka bekerja ngalong hingga subuh untuk bisa mencapai target setiap harinya. Padahal ada lebih dari 50 perempuan di Kota Yogyakarta yang berprofesi sebagai ojol.
"Teman saya pernah dapat perlakuan tidak senonoh dari customer, dia diraba-raba saat di jalan," ujar Ari, salah seorang ojol perempuan dalam Curhat Jogja Ojol Perempuan (Joker) dan deklarasi Ojol Perempuan Melawan Kekerasan Seksual di Yogyakarta, Sabtu (29/01/2022).
Menurut Ari, temannya yang berinisial Adn sampai trauma tidak mau bekerja jadi ojol meski kasus tersebut sudah dilaporkan ke perusahaan. Akhirnya Adn berhenti jadi sopir dan mencari pekerjaan lain.
"Meski sudah terjadi sekitar dua tahun lalu, kami khawatir juga mendapatkan perlakuan yang sama," tandasnya.
Ojol perempuan lain, Rini mengaku kadang khawatir mengalami kekerasan jalanan. Apalagi saat ini kembali marak terjadi kejahatan jalanan di Yogyakarta.
Padahal ibu dua anak ini kerja dari pukul 10.00 hingga 02.00 dini hari. Bahkan bila belum mencapai target, dia kadang pulang subuh. Rini juga seringkali mengambil penumpang atau kirim barang hingga ke Klaten, Solo hingga ke Yogyakarta International Airport (YIA).
"Teman kami pernah diclurit waktu kerja, jadi kadang khawatir akan ada klitih di jalan," ujarnya.
Untuk mengantisipasi kejahatan jalanan yang menimpanya, perempuan yang sudah menjadi ojol sejak 2017 silam ini akhirnya selalu share live titik perjalanannya kepada teman-teman komunitas ojol saat bekerja pada malam hari. Dengan demikian bila terjadi sesuatu, teman-temannya bisa segera datang membantu.
Bagi Rini, bekerja sebagai ojol perempuan kadang tidak mudah. Sebelum berangkat kerja, dia harus menyiapkan kebutuhan keluarga, begitu pula setiap pulang dari narik.
"Tapi karena kebutuhan hidup, ya bagaimana lagi. Suami saya pekerjaannya baru tidak menentu, akhirnya saya ikut bantu," jelasnya.
Sementara anggota Komisi B DRPD Kota Yogyakarta, Rini Hapsari mengungkapkan perlu adanya advokasi bagi pekerja-pekerja perempuan di Kota Yogyakarta. Sehingga mereka memiliki jaminan keamanan saat bekerja.
"Pemerintah kota jogja perlu meningkatkan keamanan agar para perempuan yang bekerja di lapangan seperti ojol yang jadi tulang punggung keluarga bisa bekerja tanpa merasa perlu khawatir akan keselamatannya," ungkapnya.
Politisi Partai Demokrat itu menghimbau para ojol perempuan untuk melaporkan kepada pihak-pihak terkait bila mengalami kejahatan seksual atau jalanan. Dengan demikian mereka akan mendapatkan pendampingan untuk memproses kasus yang dialami.
"Kita bisa bantu advokasi dengan orang-orang yng berkompeten di bidang hukum untuk melakukn pendampingan dan bantuan hukum," imbuhnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Perajin Menjerit! Batik Indonesia Dibajak Vietnam, Merek Lebih Dulu Didaftarkan di Luar Negeri
-
Pameran PASSAGE: Jembatan Seniman Yogyakarta Menuju Panggung Prancis
-
Ketika SD Negeri di Jogja Kekurangan Murid, Guru Patungan demi Tetap Bisa Bermimpi
-
Haedar Nashir: Tak Ada Kompromi bagi Pelaku Pelecehan Seksual di Kampus Muhammadiyah
-
Skandal Korupsi Beruntun, Muhammadiyah Desak Presiden Pimpin Perang Total, Tak Sekedar Ceramah