- John Tobing dikenang sebagai seniman kritis dan aktivis UGM 1986 yang solidaris serta penggerak demonstrasi.
- Ia mengadvokasi rakyat kecil dalam kasus konflik lahan dan lagu gubahannya menyemangati demonstran era Reformasi.
- John Tobing, yang sangat identik dengan gitar, akan dimakamkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, di TPU Madurejo.
SuaraJogja.id - Di mata para sahabatnya, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol perlawanan yang nyentrik dan kritis.
Untoro Hariadi, rekan seangkatan almarhum di Fakultas Filsafat UGM tahun 1986, mengenang John sebagai seniman yang memiliki solidaritas tinggi dan tak pernah lepas dari garis perjuangan rakyat.
Ia bercerita tentang kedekatannya dengan John yang sudah sudah terjalin sejak masa registrasi mahasiswa yang saat itu masih dilakukan secara manual.
"John itu orangnya nyentrik. Nyentrik itu penjelasannya dia seniman tapi kritis," kenang Untoro saat ditemui di Rumah Duka RS Bethesda 'Arimatea', Kamis (26/2/2026).
Persahabatan mereka tidak hanya sebatas bangku kuliah, tetapi juga di jalanan sebagai penggerak demonstrasi. Untoro mengungkapkan bahwa dirinya bersama John serta ada Afnan Malay ikut terlibat dalam 'Sumpah Mahasiswa' pada 29 Oktober 1988 silam.
Aksi tersebut bermula dari gedung BPA Fisipol sebelum akhirnya turun ke jalanan kampus UGM.
Tak hanya itu John pun disebut turut andil dalam embrio pembentukan Keluarga Mahasiswa (KM) UGM. Ide itu lahir dari berbagai diskusi John dengan rekan aktivis lainnya yang kemudian mentradisi hingga saat ini.
"Jadi dia itu seniman, aktivis, kritis, tapi juga humanis, solidaritas gitu," paparnya.
Advokasi Rakyat Kecil dan Warisan Lagu
Baca Juga: Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
Aktivitas John Tobing melampaui batas kampus dengan terlibat aktif mengadvokasi berbagai kasus pembangunan yang merugikan rakyat, seperti kasus Kedung Ombo, Cimacan, hingga konflik lahan di Parangtritis.
Di tengah aksi-aksi tersebut, lagu-lagu gubahan John lahir dan menjadi bahan bakar semangat para demonstran hingga puncaknya pada era Reformasi.
Semangat membela keadilan ini terus diteruskan oleh generasi setelah mereka, termasuk tokoh-tokoh seperti Dadang Juliantara dan Budiman Sudjatmiko.
"Dia aktif. Lagu-lagunya juga menjadi lagu kebangsaan para demonstran waktu itu. Dan kita sering komunikasi, ya karena memang sebenarnya sama-sama dibesarkan di jalan demonstrasi," ungkapnya.
Gitar Sebagai Eksistensi Terakhir
Sebelum berjuang melawan stroke, John Tobing sempat mengungkapkan keinginannya untuk kembali menggelar konser musik.
Bagi rekan-rekannya, John dan gitar adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
"Nah iya, terakhir ngomong-ngomong soal itu, dia mau konser. Kita sih memberi dukungan karena memang John, 'kamu itu eksis kalau pegang gitar. Memang itu duniamu'. Selalu saya, teman-teman, semacam diajak dialog itu selalu begitu," tegas Untoro.
Untoro bilang melalui instrumen itulah seorang John Tobing menyuarakan kegelisahan dan pemikirannya terhadap kondisi bangsa.
"Jadi sekarang tanganmu jangan pisah dari gitar karena itu eksismu ya sebagaimana Iwan Fals gitu lho. Kalau tidak ada gitar nggak eksis dia. Lah John itu eksis kalau pegang gitar dan menyanyikan pikiran-pikirannya dengan nada-nada dia," tandasnya.
Kini, sang pencipta 'Darah Juang' telah berpulang dan meninggalkan warisan semangat bagi generasi muda.
Almarhum Johnsony Marhasak L. Tobing yang wafat pada usia 59 tahun direncanakan akan dimakamkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, di TPU Madurejo, Prambanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Gitar dan Pikiran Kritis: Mengenang John Tobing, Sahabat Karib yang Menjadi 'Suara' Demonstran
-
Jelang Hari Raya, Pengawasan Pangan dan Parsel Lebaran di Kota Jogja Diperketat
-
8 Fakta Dibalik Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah Yogyakarta
-
8 Fakta Pembacokan di Bantul: Pria Tewas Saat Tidur, Polisi Duga Pelaku Dua Orang
-
Dari Mangkrak Jadi Berkilau: Kisah Bangkitnya Hotel Mutiara Malioboro, Harapan Baru di Yogyakarta