SuaraJogja.id - Mantan Menteri Agama (Menag) periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin menjadi penceramah tarawih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (4/4/2022). Adapun isi ceramah yang dia sampaikan yakni tentang mengapa dan bagaimana moderasi beragama.
Lukman menerangkan bahwa moderasi beragama kerap jadi perbincangan di ruang publik. Ini secara substansi bukan sesuatu yang baru.
"Moderasi beragama sudah diajarkan oleh guru dan orang tua kita sejak dulu yang tinggal di wilayah nusantara," kata dia.
Moderasi beragama, ujarnya, adalah sebuah upaya agar cara beragama umat Islam dalam memahami, mengajarkan, dan mengamalkannya jangan sampai melebihi batasan.
"Atau disebutnya Tatoruf yang berarti berada di sudut pojok. Karena begitu berada di pojok mudah untuk terperosok ke dalam bentuk pemahaman yg melampaui batas," tuturnya.
Dijelaskan anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu bahwa moderasi di sini bukan berarti melakukan moderasi
agama atau islam. Pasalnya, agama Islam tidak perlu dimoderasi lantaran sudah ideal.
"Tapi cara memahaminya yang berpotensi pada pemahaman dan pengamalan agama yang ekstrem," katanya.
Lebih lanjut, satu huruf dalam Islam dapat melahirkan pelbagai pemahaman atau tafsir yang beragam. Ia mencontohkan dalam Al-quran ada ayat yang hanya berisi satu huruf nun. Namun demikian, cara menerjemahkannya berbeda-beda.
"Maka semakin banyak huruf semakin multitafsir. Ada sebagian yang berlebih-lebihan (mengartikannya). Ini yang kita upayakan untuk mengajak (mereka) kembali ke tengah dengan prinsip keadilan," ucapnya.
Baca Juga: Buka Ceramah Tarawih di Masjid Kampus UGM, Panut Mulyono Dorong Mahasiswa Berintelektual
Mengajak mereka kembali ke tengah yakni jadi ummatan washatan. Ummatan washatan adalah umat yang bersikap, berpikiran, dan berperilaku moderasi, adil, dan proporsional antara kepentingan material dan spiritual, ketuhanan dan kemanusiaan, masa lalu dan masa depan, akal dan wahyu, individu dan kelompok, realisme dan idealisme, dan orientasi duniawi dan ukhrawi.
Untuk itu, semua porsinya harus berimbang, sebab ada orang yang terlalu tekstualis tanpa mempertimbangkan konteks. Atau ada juga yang mendewakan akal pikiran.
"Sehingga yang satunya kehilangan konteks dan yang lainnya tercerabut dari teksnya," ujar dia.
Lukman menyatakan ada dua ciri Indonesia yang dilihat oleh dunia. Kedua ciri tersebut yakni keberagaman dan keberagamaan. Ihwal keberagaman yakni bangsa Indonesia memiliki kemajemukan yang luar biasa.
"Kemajemukan suku, ras, agama, bahasa, dan golongan yang ada di negara ini adalah given (keniscayaan). Jadi tidak perlu ada pretensi untuk menyeragamkan.
Ciri kedua ialah keberagamaan yang mana masyarakat kita tidak bisa lepas dari nilai-nilai agama dalam sehari-harinya," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Mantan Menag Lukman Hakim: Gonggongan Menunda Pemilu Itu Jauh Lebih Mengganggu Indonesia
-
Sempat Mangkir, KPK Ultimatum Lukman Hakim Penuhi Panggilan Kasus Bupati HSU Abdul Wahid
-
Kece Banget! Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Touring dari Jakarta ke Aceh Naik Motor
-
Soal Logo HUT RI ke-75 Mirip Salib, Eks Menag Lukman Hakim Skakmat Aa Gym
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
BRI Perkuat Inklusi Keuangan, BRILink Agen Jangkau 80 Persen Desa Indonesia
-
Tokoh Yogyakarta Silaturahmi dengan Amir Nasional Muslim Ahmadiyah Indonesia
-
Holding UMi Jadi Bukti Komitmen BRI Bangun Ekonomi Rakyat yang Terintegrasi
-
Lewat Musik di Album Terbaru, Grego Julius Dekatkan Umat pada Bunda Maria
-
Teror May Day di Jogja: Mahasiswa Dikeroyok Preman Diduga Ormas, HP Dirampas Saat Rekam Aksi Brutal