SuaraJogja.id - Sesuai dengan namanya, mi instan mudah dimasak dan prosesnya tidak lama. Meski begitu orang-orang memiliki cara tersendiri untuk memasak mi instan supaya cepat matang dan bisa segera dinikmati.
Pada umumnya memasak mi instan di atas kompor dengan merebus mi di dalam air untuk beberapa menit. Namun pria ini melakukan cara yang unik ketika masak mi instan. Seperti yang diposting oleh akun Instagram @ngakakdagel pria itu tidak menggunakan kompor atau wajan ketika memasak mi.
Dirinya hanya menggunakan garpu dan air panas. Terlihat di dalam video, bumbu-bumbu dalam mi dikeluarkan dan mi dibungkus kembali dengan menggunakan garpu, agar mi tidak keluar. Lalu mi dimasukkan ke dalam wastafel lalu pria itu membuka keran air panas.
Berikutnya mi diguyur di dalam air panas selama beberapa menit. Apabila tekstur mi sudah empuk dan kenyal, maka mi dikeluarkan dari wastafel. Mi lalu dituang di piring dan dimasukkan bumbu-bumbu untuk kemudian disantap oleh pria itu.
Baca Juga: Kejutan untuk Sahabat, Wanita Ini Bikin Kue Ulang Tahun Unik dari Mi Instan
Cara memasak mi dengan air hangat di wastafel sepertinya dilakukan oleh pria tersebut, karena kemungkinan di kamarnya tidak ada kompor untuk memasak mi. Alhasil secara kreatif dia memutuskan untuk memakai air panas di wastafel agar mi bisa matang.
“Sekte mana lagi nih?” tanya akun yang mem-posting video itu.
Warganet yang melihat cara unik memasak mi banyak memberikan komentar. Banyak keheranan dengan cara tersebut, tetapi ada yang menilai cara itu kurang ramah lingkungan karena membuang-buang air secara berlebihan.
“Mantap, patut ditiru nih hahaha,” ucap warganet.
“Yah gak salah sih, tetapi gak gitu juga kali hahaha,” tutur warganet.
Baca Juga: Kurs Turki Anjlok, Wanita Ini Ungkap Harga Sebungkus Indomie di Supermarket
“Makasih tutorialnya,” imbuh warganet.
“Ngapain dah buang-buang air. Cukup masukin air panas, iket, biarin sampe matang kalau sudah tinggal masukin mangkok selesai,” tutur warganet.
“Mending minya yang direndam air panas biar gak mubazir,” balas warganet.
“Sudah boros gak sehat lagi. Soalnya kimia plastiknya ituloh,” ungkap warganet.
“Maaf ya kebiasaan di rumah jangan dibawa ke hotel. Itu hotel berbintang pasti sedia teko listrik. Kalau gak ada minta dong ke pegawai hotelnya,” saran warganet.
Video pria memasak mi instan di wastafel dan menggunakan air panas, mendapatkan 17,4 ribu likes serta 856 komentar dari warganet.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
-
5 Bahaya Makan Mi Instan Setiap Hari, Berisiko Obesitas hingga Gangguan Ginjal!
-
5 Tips Sehat Makan Mi Instan, BCL dan Suami Sampai Berdebat Pakai Nasi atau Telur Keju Kornet
-
Daftar 10 Negara Paling Banyak Konsumsi Mi Instan di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?
-
Tuna Cakalang Asli di Dalam Mi Instan, Bikin Hidangan Makin Bergizi
-
Sempat Ingin Buru-buru Menikah, Anya Geraldine Akui Tertantang Pilih Suami yang Tepat
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
Terkini
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi