Pucuk dicinta ulam pun tiba, banyak perempuan kala itu yang juga ingin membantu perjuangan Indonesia melawan penjajahan. Hal itu ditunjukkan oleh ibu-ibu atau perempuan waktu itu yang dengan sukarela memberikan apapun yang mereka miliki.
"Ya itu pandai-pandainya Bu Ruswo mengajak para wanita itu dan ternyata mereka itu para wanita itu dengan sukarela memberi bantuan apapun yang mereka punya. Baik itu ada perhiasan mungkin, semua diberikan untuk membantu perjuangan itu," jelasnya.
"Karena mereka merasa ingin berjuang tapi melalui apa. Nah kebetulan ada Bu Ruswo yang bisa mengajak mereka berjuang dalam dapur umum ya. Dia pun dengan sukarela memberikan apa yang bisa baik tenaga maupun harta yang dia punya," imbuhnya.
Disebutkan Retno, Bu Ruswo juga pernah berjuang membantu Badan Keamanan Rakyat (BKR). Di sana dia juga membantu logistik dan sebagainya. Termasuk juga masuk ke Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP).
Kurir Makanan di Garis Depan Palagan
Bu Ruswo pun pernah merasakan menjadi seorang kurir di medan pertempuran. Ia pernah membawa surat ditaruh di sadel sepeda atau stang sepeda.
Kurir yang berperan untuk membantu pejuang menyampaikan berita dari garis depan ke belakang, kemudian ke markas. Serta membawa makanan di dapur umum ke garis depan agar tidak kelaparan.
"Para prajurit sangat mengenal Bu Ruswo, bahkan ia dijuluki ibu prajurit karena membantu logistik itu. Karena cintanya sama Ibu Ruswo jadi dipanggil sebagai ibu prajurit," ungkapnya.
Retno sendiri memang sudah akrab dalam melakukan penelitian terhadap sejumlah pejuang perempuan di Indonesia, termasuk tentang Ibu Ruswo yang diteliti pada tahun 2006 silam.
Baca Juga: 10 Tahun Berjualan, Pedagang Lawar Babi di Bali Ini Merasa Belum Merdeka
"Saya kira Ibu Ruswo itu sangat penting karena dia membantu pejuang di dapur umum. Jadi dapur umum pada waktu itu yang terkenal dikoordinir oleh Ibu Ruswo, kemudian saya mencoba mencari siapa itu Ibu Ruswo," kata Retno.
Menurutnya perjuangan Ibu Ruswo yang kuat khususnya terkait hajat hidup dasar orang banyak itu tak bisa dihilangkan begitu saja. Mengingat tercukupinya logistik saat perjuangan melawan penjajah di medan perang tetap penting.
"Iya padahal logistik itu penting sekali. Memang logistik di kota itu yang mengkoordinir ya dapur umum seperti Ibu Ruswo itu. Tapi kalau di Gunungkidul, Bantul di kabupaten-kabupaten itu pedesaan, pemerintah desa dan rakyat desa," terangnya.
"Biasanya kalau ada gerilya di situ juga dipakai dapur umum. Nanti masyarakat pedesaan yang membantu apa punyanya, kalau punya sayur ya di kasih sayur, tenaga ya tenaga," imbuhnya.
Disampaikan Retno, dapur umum sendiri juga tak serta merta hanya digunakan sebagai tempat memasak saja. Melainkan juga bisa sebagai markas para pejuang waktu itu.
"Di dapur umum itu sendiri tidak hanya untuk memasak tapi juga untuk membicarakan strategi perjuangan para gerilya. Kemudian kurir-kurir datang, membicarakan perjuangan besok, merawat dan menyimpan senjata. Jadi tidak hanya melulu untuk memasak saja di dapur umum itu," tegasnya.
Berita Terkait
-
Mengenang Sosok Fatmawati, Ibu Negera Istri Bung Karno Sang Penjahit Bendera Merah Putih
-
Video Viral Lomba Unik 17-an, Bocah-bocah Lucu Tangkap Bebek dengan Mata Tertutup
-
7 Momen Pengibaran Bendera Merah Putih di Berbagai Daerah, dari Lereng Gunung hingga Dasar Laut
-
Upacara HUT ke-77 Kemerdekaan RI, Edy Rahmayadi Pesan Begini ke Generasi Muda
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
UPN Jogja Sebut Belum Ada Tawaran Resmi Kelola MBG, Pilih Fokus Ketahanan Energi
-
Revisi UU Pemilu Tertahan di Legislatif, Akademisi Sebut Sekadar Tambal Sulam
-
Anggaran BOSDa DIY 2026 Dipangkas Rp9 Miliar, Sekolah Kecil Terancam Tak Mampu Beroperasi
-
Diduga Kelelahan dan Serangan Jantung, Satu Jamaah Haji Asal Kulon Progo Wafat di Mekkah
-
Hari Ini, BRI Bayar Dividen Para Investor