SuaraJogja.id - Bersepeda menjadi salah satu gaya hidup yang berkembang pesat pasca pandemi COVID-19. Tak hanya secara mandiri, banyak komunitas sepeda yang bermunculan.
Namun banyak pesepeda yang tidak memperhatikan aturan bersepeda dengan benar. Akibatnya banyak terjadi kasus henti napas atau jantung akibat pesepeda kelelahan.
Di DIY misalnya, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, sejumlah kasus henti nafas akibat bersepeda terus muncul. Sebut saja kasus pesepeda yang meninggal dunia di Jalan Godean pada 5 Oktober 2020, kasus pesepeda meninggal di kawasan Yogyakarta International Airport (YIA) pada 19 Juli 2020 hingga pesepeda asal Sukoharjo yang meninggal di Gunung Kidul pada 27 Maret 2022 lalu.
"Kasus henti napas saat bersepeda terjadi karena kita tidak mengenal kondisi kesehatan tubuh kita, apakah memiliki riwayat penyakit atau tidak," ujar dokter kesehatan, dr Dian Budiani dalam Pruride 2022 di Yogyakarta, Jumat (09/09/2022).
Menurut Dian, persiapan yang seadanya saat bersepeda, termasuk asupan makanan yang sembarangan juga bisa berpengaruh pada kesehatan pesepeda saat gowes. Sebab tidak semua jenis karbohidrat yang dikonsumsi bisa membantu carbo loading saat menggenjot sepeda.
Mereka juga seringkali hanya ingin cepat sampai tanpa melihat track jalan yang mereka lewati. Padahal tanjakan bisa menguras tenaga, apalagi bagi pesepeda yang jarang berolahraga.
"Pesepeda harus memperhatikan kecepatan saat berolahraga, hindari jalur tanjakan bila memungkinkan. Emosi harus dijaga, tidak perlu nafsu untuk sampai agar tidak kehilangan ritme nafas dan kekurangan oksigen," paparnya.
Chief Operations and Health Officer Prudential Indonesia tersebut menambahkan, para pesepeda juga harus memperhatikan jam istirahat mereka. Kalau memang dalam kondisi kurang tidur atau tidak fokus, maka disarankan tidak bersepeda dengan track yang jauh.
Apalagi bagi pesepeda yang sudah berusia diatas 40 tahun, mereka perlu berkonsultasi terlebih dulu bila ingin bersepeda. Mereka tidak boleh tergoda ikut-ikutan bersepeda dengan anak muda yang usianya jauh dibawah mereka.
Baca Juga: Disdikpora Kota Yogyakarta Salurkan Bosda untuk Kelas Khusus Olahraga
"Yang penting mengikuti kemampuan diri, tidak perlu ikut-ikutan. Jangan ngoyo (ngotot-red) sehingga heart rate jadi melebihi yang seharusnya," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Menyesap Selang Demi Setetes Air, Potret Ketangguhan Warga Bantul Bertahan Saat Kemarau
-
Pasien Asuransi Pemerintah Masih Menunggu, Industri Sebut Administrasi Jangan Kalahkan Kemanusiaan
-
UMY Kembangkan 5 AI Pendeteksi Penyakit, Bantu Diagnosis Kanker hingga Tumor Otak Lebih Cepat
-
Unisa Yogyakarta Perkuat Riset Lewat Laboratorium Animal House, Dukung Pengembangan Kandidat Obat
-
Isu Keamanan Jelang HUT RI Bikin Khawatir, Sri Sultan Singgung Soal Pagar Tinggi di Mal