Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora | Hiskia Andika Weadcaksana
Sabtu, 05 November 2022 | 20:35 WIB
Rombongan partisipan G20 Religion Forum (R20) berkunjung ke Candi Kimpulan di Universitas Islam Indonesia pada Sabtu (5/11/2022). [Hiskia Andika Weadcaksana / Suarajogja.id]

"Memang belum ngomong semua, tapi beberapa mengatakan ini fantastik, ini luar biasa, dahsyat. Ini sesuatu pesan yang memang harus digaungkan pada semua pemimpin agama di dunia," ujarnya.

Sementara itu, Rektor UII Fathul Wahid menuturkan bahwa setidaknya ada dua pesan dalam kegiatan kali ini. Pertama terkait dengan bagaimana menghargai masa lalu.

"Kita ada sekarang ini tidak dari kertas kosong bukan barometer nol tapi ada peran aktor pendahulu yang perlu kita hormati dan kota teruskan upaya-upaya baiknya," ucap Fathul.

Kemudian yang kedua, lanjut Fathul adalah tentang kesetaraan. Dalam konteks mayoritas dan minoritas maka ada pesan bahwa mayoritas harus melindungi menciptakan ruang berkembang untuk kawan-kawan minortas.

Baca Juga: Minoritas di Kalangan Yahudi, Rabi Perempuan Silvina Chemen Bicara Perdamaian di Forum R20 di Bali

"Jika dengan demikian kesetaraan manusia bisa dijamin dan semuanya punya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Pesan ini menjadi sangat penting untuk kita lantangkan bersama-sama ke seluruh dunia bahwa yang kita bicarakan bukan isapan jempol tapi betul-betul kita bisa jalankan di lapangan," ungkapnya.

Load More