Para pejuang termasuk di antaranya Sri Sultan Hamengku Buwono IX kerap berkunjung ke rumah tersebut dengan berpura-pura jajan sate. Tetapi di balik itu mereka saling berkomunikasi menyusun strategi untuk menumpas penjajah Belanda.
Kekinian rumah yang berkedok warung sate tersebut didirikan monumen serta patung seorang pejuang yang membawa bambu runcing sebagai penghormatan para pahlawan.
Nah, tak beda dengan sate, kuliner soto ternyata juga turut mengiringi para pejuang selama masa revolusi.
Disarikan dari catatan Denys Lombard dalam Buku Bagian II Nusa Jawa: Silang Budaya, soto merupakan aplikasi turunan dari makanan China yang asal katanya Jao To. Sementara menurut Russel Jones dalam Loanwords in Indonesian-Malay soto berasal dari kata Shao Du.
Jejak soto disebut masuk ke tanah Jawa khususnya sekitar abad ke-19 melalui jalur perdagangan di pesisir utara terutama di Kudus yang kemudian bergerak ke Semarang, Pekalongan hingga mendarat ke Lamongan dan Surabaya.
Di Surabaya saat pertempuran 10 November 1945 meletus, soto disebut punya andil tak kalah besar dalam menumpas pasukan Inggris yang ditunggangi NICA.
Mengutip pernyataan sejarawan dan pakar kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, soto kala itu menjadi satu diantara pilihan asupan pangan para pejuang.
Surabaya dan sekitarnya ketika itu sedang dilanda kelaparan hebat akibat perang dan pagebluk. Kuliner soto pun dianggap sebagai menu yang praktis lagi memungkinkan dijangkau oleh para pejuang ketika itu untuk memenuhi asupan protein serta karbohidratnya.
Tak sekadar menjadi bahan bakar untuk mengenyangkan perut, para pedagang soto di Surabaya nyatanya juga turut serta turun ke mandala perjuangan kemerdekaan.
Para pedagang soto ini tergabung dalam Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia atau BPRI yang dibentuk oleh Sutomo atau yang dikenal dengan Bung Tomo.
Pembentukan BPRI diinisiasi oleh Bung Tomo sebagai bentuk kekeceweaan atas situasi di ibu kota Jakarta dimana sekutu dan serdadu Belanda bebas berkeliaran.
BPRI bentukan bung Tomo selain berisi para pedagang soto juga di dalamnya tergabung para rakyat kecil, pedagang makanan lainnya serta tukang becak.
Salah satu aksi BPRI dalam mempertahankan Surabaya dari aneksasi tentara NICA yakni melalui radio perjuangan yang disiarkan dari markas mereka di Jalan Mawar 10 Surabaya.
Lewat siaran radio perjuangan inilah orasi-orasi Bung Tomo disebarluaskan untuk membakar semangat para pejuang yang berpuncak pada tewasnya perwira tinggi Inggris, Brigjen Mallaby.
Tag
Berita Terkait
-
Kesaksian Sopir Ambulans: Bawa Jenazah Brigadir J, Diberi Sate hingga Menunggu sampai Subuh
-
Kepala Sekolah Swasta Jabar Demo di Depan Gedung Sate, Kenapa Dianaktirikan?
-
Resep Soto Ayam Home made
-
Mencoba 5 Jenis Sate dari Barat Hingga Timur Indonesia, Siapa yang Pernah Mencoba Semuanya?
-
Cicipi Kuliner Jakarta, Jay B Kaget Ada Tomat di Soto Betawi
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
Terkini
-
Licik! Polisi Ungkap Modus Love Scamming Jaringan Internasional di Sleman
-
Sebulan Kerja di Kantor Love Scamming, Sumanto Bersyukur Tak Ikut Digerebek
-
Leptospirosis Marak di Lima Kabupaten, 38 Kematian Terjadi di Jogja
-
7 Fakta Penggerebekan Markas Scammer Jaringan Internasional di Sleman
-
BRI VISA Infinite Tawarkan Kemudahan Transaksi Lintas Negara dan Rewards yang Kompetitif