Scroll untuk membaca artikel
Eleonora PEW
Selasa, 15 November 2022 | 09:34 WIB
Ilustrasi aliran musik dangdut koplo - (Suara.com/Iqbal Asaputro)

Tak heran, ketika Gofar Hilman "mengenalkan" [almarhum] Didi Kempot pada para pendengarnya, respons yang didapat adalah animo yang sangat kuat dari anak-anak muda. Di kemunculan keduanya ini, Didi Kempot, menurut Irfan, sudah lebih luwes menggunakan irama musik dangdut, tidak hanya campursari dan keroncong, tapi juga memasukkan unsur koplo.

Terciptalah titik pencapaian baru dari dangdut koplo, sampai-sampai pada pertengahan 2020 Didi Kempot diberi gelar "The Godfather of Broken Heart", dan para penikmat karyanya dijuluki Sobat Ambyar. Itu tak lain karena lirik lagu-lagunya memang menggambarkan kondisi hati yang remuk, hancur, nelangsa, ngenes, ambyar-lah pokoknya.

Raga bergoyang walau hati mengerang: dangdut koplo

Kendati liriknya menyedihkan, tetapi, semua orang pun tahu, lagu-lagu dangdut, terlebih dangdut koplo, asyik buat joget. Ternyata, Irfan menjelaskan, musik yang bikin bergoyang ini sebetulnya punya pengaruh pada tubuh manusia secara psikologis.

Baca Juga: Kehilangan iPhone 13 Pro Max, Farel Prayoga: iPhone Enak, Gampang Kalau Dicari

"Sangat berbeda ketika kita mendengarkan lirik yang ngenes dengan iringan yang juga syahdu mendayu-dayu, dengan yang ada groove dari kendangnya. Ini berhasil, meluapkan kesedihan atau kenelangsaannya itu dengan bergoyang. Itu adalah hiburan dari kesedihan-kesedihan orang yang mendengarkannya. Kombinasi ini berhasil dan terus digunakan," ungkap Irfan.

Bukan cuma sang pakar, penikmat musik koplo pun mengamininya. Hibatullah Rashif (26), salah satu penggemar musik koplo, mengaku bahwa musik koplo adalah obat penenang baginya kala dirundung rasa gundah gulana. Ketika sakit hati, ia tak mau terus tenggelam meratapi nasib, lantas dangdut koplo adalah jalan keluar.

"Kayaknya dangdut koplo ini jadi medium untuk bersenang-senang aja, jadi tidak merasa sedih-sedih banget. Apalagi kalau datang ke konser, dengan ribuan orang yang menyukai lagunya kan bisa sing along, bisa lebih teriak, jadi lebih bisa meluapkan perasaan. Di situ sih enaknya, lebih plong aja kalau lagi dengerin dangdut koplo," ujar karyawan swasta yang hobi menulis tentang musik dan menjelajahi konser ini.

Sementara itu, pendapat yang tak jauh berbeda juga datang dari sudut pandang pelakunya langsung, Aftershine, band koplo asal Sleman yang digawangi Hasan sebagai vokalis, Hedo dan Andika sebagai gitaris, Agus pemain bass, Zulian pemain keyboard, dan Yuriko penabuh kendang ketipung. Berangkat sebagai band beraliran pop pada 2017, Hasan dkk mulai berkarya lewat dangdut koplo lantaran Hasan memang suka mendengarkan dangdut, dan tak disangka, musik mereka pun lebih diterima masyarakat. Lewat lirik perih diiringi musik yang asyik, mereka menyelipkan pesan pada setiap lagunya.

"Orang yang lagi hancur, patah, itu mereka tidak mau harus melulu mendengar tentang kesedihan. Lagu kita itu dimulai dengan pop, untuk dirasakan dulu, dimengerti dulu artinya itu seperti apa, masuk ke reff, kita baru ke koplonya. Jadi kalau reff itu kita mengajak semua orang untuk teriak keras di situ. Untuk liriknya, kita lebih gimana caranya ngena ke hati teman-teman semuanya," tutur Hasan.

Baca Juga: Ramai Berita Kemarin, Hoaks Kabar Farel Prayoga Meninggal sampai Kekerasan di Papua Tengah

Merespons masifnya gelombang koplo saat ini, Zulian dan Andika mengaku tak mempermasalahkan jika orang-orang yang dulu meremehkan dangdut koplo sekarang ikut merayakan kejayaannya.

Load More