SuaraJogja.id - Kementerian Pertanian (kementan) mendesak Pemda DIY meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Hal ini menyusul tingginya angka kemiskinan di tiga kabupaten di DIY seperti Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo.
"DIY bisa meningkatkan produktivitas, jadi kapasitas produksi yang potensial kita genjot [di tiga kabupaten itu]. Karenanya yang miskin kan sebagian besar petani," ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan RI , Dedi Nursyamsi saat bertemu petani milenial di Polbangtan Yogyakarta, Selasa (28/02/2023).
Peningkatan produktivitas pertanian, menurut Ketua II Nasional Perhimpunan Agronomi Indonesia (peragi) tersebut bisa diwujudkan melalui smart farming atau pertanian pintar. Pemda perlu menggarap sistem dari hulu hingga hilir, termasuk di dalamnya subsistem-subsitem kecil lainnya yang saling berkaitan dan saling mendukung.
Pengembangan sektor pertanian pun mestinya tidak hanya berorientasi pada produksi namun juga pada bisnis. Hal ini memungkinkan karena skema pembiayaan pengembangan pertanian banyak diberikan dunia perbankan.
Dicontohkan Dedi, dari target Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan perbankan pada 2020 lalu mencapai sebesar Rp50 Triliun bisa terealisasi sampai Rp55 Triliun. Hal serupa terjadi ada 2021, dari target KUR Rp70 Triliun bisa terealisasi Rp86 Triliun.
"Kalau 2022 lalu, dari target kur Rp90 triliun bisa terealisasi Rp113 triliun. Jadi kalau dipersentase sampai 115 persen, artinya melampaui target. Padahal anggaran pembangunan pertanian dari kementan dan dari propinsi, kabupaten/kota langsung drop gara-garap covid-19 tapi pertanian tetap tumbuh menggeliat karena kur naik terus," jelasnya.
Dedi menambahkan, selain smart farming dan KUR, kolaborasi juga perlu dilakukan. Tiga aspek tersebut akan menjadi bahan bakar membangun agribisnis Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut maka pemanfaatan teknologi baru atau inovasi yang menguntungkan dapat diadopsi dengan cepat. Dengan demikian bisa menumbuhkan wirausaha pertanian di Indonesia, termasuk di DIY dalam rangka mengatasi kemiskinan.
Teknologi pun mestinya tidak hanya digunakan sebagai alat dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Pemda perlu juga memetakan kebutuhan dan potensi di kabupaten. Melalui pemanfaatan teknologi dan riset, maka inovasi pertanian yang cocok bisa dikembangkan.
Baca Juga: Belum Usai Kasus Rafael, Pejabat Bea Cukai DIY Jadi Sorotan Usai Pamer Gaya Hidup Mewah
“Smartfarming dengan pemanfaatan bioscience, teknologi, dan Internet of things. Ini ranah dari ilmuwan dan pakar, ranah para milenial," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Tak Sekadar Turnamen, Juara ANC Dibidik Masuk Jalur Pembinaan FFI hingga U-21
-
Proyek PSEL DIY Dikebut Akhir Tahun, Tapi Izin Belum Diajukan
-
Stem Cell Jadi Ladang Bisnis Kecantikan, Dokter Ingatkan Produk Ilegal dan Klaim Berlebihan
-
BRI dan KPK Perkuat Gerakan Antikorupsi melalui PELOPOR 2026
-
Papermoon Gelar Pesta Boneka #10 di Jogja, Hadirkan 193 Seniman dari 24 Negara