Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Selasa, 28 Maret 2023 | 17:12 WIB
Masjid Sela di Kota Yogyakarta. [Suarajogja.id/Hiskia Andika Weadcaksana]


"Sudah beberapa kali (pemugaran) yang jelas kanan kiri dulu enggak ada, lalu dibangun untuk memenuhi kebutuhan jemaah. Terutama salat jumat dan tawarih itu kan enggak cukup jadi ditambah," terangnya. 


Ndalem tersebut disebut pernah mengalami sejumlah kerusakan akibat dari serangan tentara Inggris pada tahun 1812 M silam. Gempa dahsyat yang melanda Yogyakarta pada 2006 silam pun tak begitu banyak mengalami kerusakan. 


Konon Masjid Sela yang seluruh bangunannya terbuat dari campuran spesi pasir, kapur dan semen merah membuatnya tetap kokoh berdiri. 


Mengingat hasil campuran spesi tersebut menjadi keras seperti batu berwarna hitam. Oleh karena itu masjid diberi nama dari bahasa Jawa yaitu 'Sela' yang berarti batu.

Baca Juga: Pererat Silaturahmi, Kimaya Sudirman Yogyakarta by Harris Gelar Media, Corporate dan Social Community Gathering


Dari segi arsitektur sendiri, disampaikan Sunarwiyadi mirip dengan area Taman Sari. Dilihat dari ketebalan tembok hingga 70 centimeter, atap serta dan daun pintu yang rendah.


"Pintu tidak terlalu tinggi itu memang kalau zaman dulu filosofinya orang harus menunduk," ucapnya.


Masjid ini diketahui memiliki luas 6 x 8 meter pada bangunan inti dan dapat menampung diperkirakan hingga 30 jamaah. Sedangkan untuk bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.


Selama bulan ramadan tahun ini, Masjid Sela juga aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan. Mulai dari buka bersama, ceramah tiap sore hingga tarawih serta tadarus.

Baca Juga: Waduh! Jalan Nasional Yogyakarta-Semarang Tertutup Longsor, Begini Kondisinya

Load More