Muhammad Ilham Baktora
Jum'at, 07 Juli 2023 | 20:15 WIB
Pakar Peternakan UGM menyampaikan tentang antraks di UGM, Jumat (7/7/2023). [Kontributor Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]

SuaraJogja.id - Pakar dari Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono menyatakan, tradisi mbrandu atau membeli hewan ternak mati untuk dikonsumsi bisa dihentikan. Sebab tradisi itu yang bisa memicu penyebaran penyakit antraks.

Seperti yang terjadi di Gunungkidul, satu orang meninggal dunia akibat menyembelih dan mengkonsumsi hewan ternak yang sudah mati. Bahkan 87 orang di Padukuhan Jati, Kalurahan Candirejo Kapanewon Semanu Gunungkidul, DIY terpapar antraks karena mengkonsumsi daging hewan ternak yang seropositif antraks.

"Cukup sudah jangan sampai ada kasus lagi, karena sekarang hampir semua provinsi di Indonesia sudah kena. Sebagaimana saat Covid-19 mari bersama-sama kita lawan, masyarakat saling mengingatkan," papar Nanung di UGM, Jumat (7/7/2023).

Menurut Nanung, pemahaman, kesadaran, serta upaya bersama dalam penanganan antraks sangat penting dilakukan agar tidak lagi menimbulkan korban. Kebiasaan memotong dan membagi-bagikan daging hewan yang mati karena sakit merupakan salah satu kebiasaan yang berbahaya.

Tradisi masyarakat membeli ternak mati milik tetangga sebagai bentuk gotong royong meringankan beban itu bukan solusi yang tepat. Namun justru memunculkan masalah baru karena hewan yang mati kemungkinan besar terpapar penyakit. Apalagi dalam Islam, memakan bangkai ternak haram hukumnya.

"Boleh lah membantu gotong royong. Tapi tolong dagingnya jangan dimakan, dagingnya dimusnahkan," tandasnya.

Nanung juga berharap pemerintah membeli tanah bekas penguburan hewan yang positif terinfeksi penyakit antraks. Sebab dari hasil studi dan pembuktian terkini di Afrika Selatan menyebutkan spora yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus anthracis penyebab penyakit antraks pada hewan ternak maupun manusia dapat bertahan hingga 250 tahun.

"Spora antraks juga awet, tidak ada pilihan. Pemerintah mungkin harus membeli untung tanah itu, kemudian dibuat pagar tinggi, diberi pengumuman yang jelas," ungkapnya.

Sementara pakar peternakan UGM lainnya, Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni mengungkapkan menyembelih bangkai hewan yang mati karena penyakit menjadi pemicu penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Termasuk penyakit antraks yang tidak hanya dapat menjangkit hewan lainnya namun juga manusia hingga memunculkan kasus kematian.

Baca Juga: Pemda Awasi Wabah Antraks Muncul di Gunungkidul

"Hewan yang terjangkit tidak boleh dibuka, maka kalau disembelih itu kesalahan fatal karena bakteri sebagian besar ada di darah. Ketika darah keluar dan berinteraksi dengan udara, terbentuklah spora yang menjadi momok," jelasnya.

Endang menambahkan, kasus antraks telah masuk ke Indonesia sejak 1884. Wilayah yang terserang antraks semakin lama semakin banyak dan meluas karena antraks memang merupakan penyakit yang tidak mudah dimusnahkan.

Spora yang dihasilkan oleh bakteri antraks sulit hilang dan bisa bertahan di tanah hingga puluhan tahun. Penyakit antraks yang menyerang hewan, terangnya, sebenarnya masih bisa ditangani dengan terapi pengobatan. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, hewan yang terjangkit bisa tetap hidup dan sembuh dari penyakit tersebut.

"Bisa diobati karena bakteri masih sensitif dengan antibiotik. Untuk pencegahan ada vaksinasi yang perlu diulang setiap enam bulan," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More