SuaraJogja.id - Terik matahari masih menyengat ketika sejumlah ibu-ibu keluar dari dalam rumahnya di RT 07 Dusun Ngipik, Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul. Sembari menggendong jerigen ukuran 10 dan 25 liter mereka kemudian naik ke atas bukit.
Mereka kemudian berjalan sekira 400 meter ke arah puncak dengan menyusuri jalan setapak di punggung perbukitan Batur Agung sisi utara. Bukit dengan elevasi 60 derajat mereka lewati di mana satu sisi jalan setapak tersebut adalah jurang dengan ketinggian puluhan meter.
Mereka berjalan menuju ke atas bukit ke sebuah sumur yang ada di sebuah rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Setiba di dekat sumur tua tersebut, mereka satu persatu berusaha menimba air sumur.
Namun tak seperti air sumur di wilayah lain, airnya sudah berwarna putih keruh layaknya susu kental manis yang telah diseduh.
Perlahan-lahan mereka kemudian mengisi jerigen yang dibawanya dari rumah dengan air berwarna keruh tersebut. Setelah penuh, mereka kemudian menggendongnya kembali menggunakan kain di punggung mereka.
Ibu-ibu yang sudah berusia lanjut ini lantas berjalan tertatih membawa air di punggungnya. Jalan mereka cukup pelan karena menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset ke dalam jurang. Sekitar 30 menit kemudian mereka tiba di rumah dan langsung menuangkan air ke dalam tempat penampungan.
Warga tidak langsung menggunakan air yang mereka ambil tersebut dan memilih untuk mengendapkan terlebih dahulu selama 12 jam. Baru di lain hari, air tersebut mereka gunakan untuk mandi dan mencuci pakaian termasuk juga untuk dikonsumsi.
Sularmi, salah seorang warga Padukuhan Ngipik tersebut mengakui sejak bulan Agustus lalu, dia bersama 7 kepala keluarga lainnya terpaksa harus menjalani rutinitas tersebut. Sebab, mereka kesulitan mendapatkan air bersih.
"Kalau beli air, tak ada droping yang sampai ke sini. Wong truk tangki Ndak ada yang bisa dan kuat naik ke sini," tutur dia.
Baca Juga: Samarinda Diselimuti Kabut Asap, Wali Kota Andi Harun: Karena Musim Kemarau
Sumur tua yang mereka ambil itu sebenanrnya bukan sumur mata air namun hanya sumur penampungan. Dan kini, airnya kian menipis dan warna airnya juga sudah keruh. Namun, warga terpaksa memanfaatkan air sumur berkedalaman 17 meter tersebut karena memang sulit mendapatkan air bersih.
Di bagian bawah dusun mereka, sebenarnya sudah ada sumur bor namun untuk menjangkaunya warga harus berjalan cukup jauh. Dan medan yang harus dilalui jauh lebih sulit ketimbang ke sumur tua tersebut
"Ya mau bagaimana lagi. Harus kami jalani," terang dia.
Jaringan PAM Desa sebenarnya juga sudah masuk ke wilayah mereka. Namun akibat kemarau panjang ini debitnya mengecil dan pompa air tak mampu menghantarkan aliran sampai ke rumah mereka. Sehingga warga terpaksa menggunakan sumur keruh tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Suranto, ketua RT setempat mengakui jika ada 7 KK termasuk dirinya yang menjalani aktivitas seperti ini. Total jumlah jiwanya ada 22 yang menggantungkan hidupnya dari sumur tua dengan air keruh tersebut.
"Kebiasaan ini terjadi setiap tahun. Setiap dusun memang sudah dibuat sumur, tapi kami tetap kesulitan," jelas pria dengan panggilan Surip ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
UMY Kembangkan 5 AI Pendeteksi Penyakit, Bantu Diagnosis Kanker hingga Tumor Otak Lebih Cepat
-
Unisa Yogyakarta Perkuat Riset Lewat Laboratorium Animal House, Dukung Pengembangan Kandidat Obat
-
Isu Keamanan Jelang HUT RI Bikin Khawatir, Sri Sultan Singgung Soal Pagar Tinggi di Mal
-
BRI Optimalkan Likuiditas dari Dana SAL untuk Perluas Kredit Berkualitas bagi UMKM
-
Berangkat Kerja Malah Jadi Korban Begal, Pria di Sleman Ditodong Sajam dan Motor Digasak