Husna Rahmayunita | Rosiana Chozanah
Selasa, 22 September 2026 | 12:20 WIB
Hanung Bramantyo saat special screening film Lobang Buaya di Jogja
Baca 10 detik
  • Hanung Bramantyo mengangkat sejarah 1965 lewat film horor Lobang Buaya yang memadukan fiksi dan konteks sejarah.
  • Film ini terinspirasi propaganda "tujuh setan desa" dan mengaitkannya dengan persoalan kekuasaan serta ketidakadilan yang masih relevan.
  • Hanung menggunakan horor untuk membuka ruang diskusi tentang sejarah 1965 yang dinilai masih sensitif di Indonesia.

SuaraJogja.id - Sutradara Hanung Bramantyo menghadirkan sejarah kelam Indonesia 1965 melalui pendekatan berbeda lewat film terbarunya, Lobang Buaya.

Alih-alih mengemasnya sebagai drama sejarah, Hanung memilih genre horor untuk menghadirkan cerita fiksi yang mengambil latar satu tahun sebelum peristiwa 30 September 1965.

Film yang diproduksi bersama Adhya Pictures dan Dapur Film ini mengisahkan serangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya.

Desa kecil antara Jakarta dan Bogor ini diguncang pembunuhan terhadap sejumlah tokoh desa. Para korban ditemukan dengan punggung berlubang dan tubuh penuh sayatan berupa kata-kata sindiran seperti "Tamak", "Lamis", dan "Maruk". Rumor mengenai sosok "Hantu Bolong" kemudian semakin memperkeruh suasana.

Sosok Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra ditugaskan menyelidiki kasus tersebut dan mengumpulkan petunjuk untuk mengungkap dalang di balik tragedi yang terjadi setiap tanggal 30.

Film ini juga memasukkan unsur budaya Jawa melalui referensi kitab Al-Ghayat yang diterjemahkan oleh bangsa Spayol menjadi Kitab Picatrix, dikenal sebagai kitab sihir berisi ajaran tentang kepasrahan kepada kekuatan gaib.

Unsur tersebut digunakan untuk memperkuat nuansa mistis sekaligus membuka ruang interpretasi mengenai hubungan manusia dengan kekuatan tak kasat mata.

Terinspirasi "Tujuh Setan Desa"

Hanung mengatakan Lobang Buaya bukan kisah nyata. Namun, latar belakang sosial-politik yang menjadi pijakan ceritanya merujuk pada konteks sejarah yang pernah terjadi.

Baca Juga: Screening 'Harusnya Horror' di Jogja Jelang Penayangan: Reza Arap dan AAAClan Disambut Meriah

Film tersebut terinspirasi dari kampanye Partai Komunis Indonesia (PKI) pada sekitar 1963 yang menyebut adanya kelompok yang dikenal sebagai "tujuh setan desa".

"Jadi sebenarnya bukan kisah nyata, tetapi latar belakangnya itu nyata. Kalau teman-teman semuanya melihat, membaca sejarah, tahun 1963 PKI melancarkan sebuah propaganda mengganyang tujuh setan desa," kata Hanung saat special screening Lobang Buaya di Empire XXI Yogyakarta, Senin (21/9).

Istilah tersebut merujuk pada kelompok yang dalam propaganda saat itu dianggap mengeksploitasi dan menekan masyarakat desa, seperti tuan tanah, kapitalis birokrat, rentenir, tengkulak jahat, pengijon, hingga kelompok yang memiliki kekuasaan.

Dalam film, kelompok tersebut menjadi simbol kekuatan yang menindas masyarakat. Hanung tidak hanya mengangkat kekerasan terhadap seorang perempuan, tetapi juga bagaimana orang-orang yang seharusnya melindungi masyarakat justru dapat menggunakan kekuasaan untuk melakukan tindakan kriminal. Di sisi lain, warga desa digambarkan hanya diam ketika melihat ketidakadilan.

Hanung kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi masyarakat saat ini. Ia juga menyoroti masyarakat yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan di sekitarnya.

"Tujuh setan desa itu masih ada, hanya berganti nama. Tuan tanah kini menjadi korporasi, kapitalis birokrat menjadi pejabat korup, rentenir menjelma pinjol, dan pengepul tetap menekan petani. Tujuh setan desanya masih berkuasa sampai hari ini," ujar Hanung.

Load More