- Dinas Kesehatan Sleman mencatat 112 kasus terdiagnosis dan 81 kasus suspek leptospirosis hingga Oktober 2026.
- Kawasan perumahan dan pabrik kayu di Kapanewon Ngemplak menjadi wilayah dengan sebaran penumpukan kasus terbanyak.
- Dampak wabah tersebut menyebabkan empat orang meninggal dunia yang terdiri dari dua pasien positif dan dua suspek.
SuaraJogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat untuk memperketat kewaspadaan terhadap penularan penyakit leptospirosis seiring datangnya musim hujan.
Berdasarkan data resmi Dinkes Sleman hingga Oktober 2026, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Sleman, Khamidah Yuliati, menuturkan angka infeksi akibat bakteri Leptospira tercatat mengalami kenaikan.
"Kemudian untuk leptospirosis kasus di Sleman sampai laporan terakhir itu 112 kasus dan itu yang sudah terdiagnosis tegak leptospirosis ya," kata Yuli, Jumat (6/11/2026).
Selain kasus yang sudah terdiagnosis tegak, Dinkes Sleman turut mengawasi puluhan warga yang menunjukkan gejala klinis mengarah pada infeksi bakteri dari kencing tikus tersebut. Laporan resmi mencatat sebanyak 81 kasus suspek leptospirosis turut ditemukan di lapangan.
"Ada juga yang masih suspek, artinya dia belum bisa dipastikan apakah ini lepto bukan, tetapi mengarah ke lepto, gitu namanya suspek," ujarnya.
"Dan yang leptospirosis 112 (kasus) itu ada dua yang meninggal dunia sampai hari ini dan mudah-mudahan tidak naik lagi sampai akhir tahun tapi dari yang suspek itu juga ada dua yang meninggal," tambahnya.
Yuli menyoroti grafik perkembangan kasus mingguan dan tahunan di Kabupaten Sleman. Dari tren historis yang tercatat sejak 2020 hingga 2026, grafik menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus yang dinamis, meski sempat mengalami penurunan singkat pada 2024.
"Tren leptospirosis ini memang dari tahun ke tahun malah meningkat dibandingkan misalnya dari tahun 2020 ya, sejak saya di dinas 2022 sampai sekarang itu memang trennya naik tapi pernah turun di tahun 2024," ungkapnya.
Terkait sebaran geografis, kata Yuli, penumpukan kasus terbanyak berada di wilayah Kapanewon Ngemplak. Adapun penularan di wilayah tersebut tidak terjadi di area pertanian, melainkan di kawasan perumahan dan pabrik kayu.
Baca Juga: Geger di DPRD DIY, Foto Gibran Diturunkan, Forum Kebangsaan Desak Pemakzulan
Tingginya angka kejadian ini berbanding lurus dengan temuan populasi vektor di lapangan. Lampiran data Dinkes Sleman mencatat Rodent Trap Success Rate (tingkat keberhasilan perangkapan tikus) mencapai 34,2 persen.
Mengingat tingginya data kasus dan kepadatan populasi tikus, masyarakat diimbau segera memanfaatkan fasilitas tes Leptotek (RDT) di puskesmas jika mengalami gejala demam dan nyeri betis agar penanganan medis dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
"Harapan kami memang masyarakat itu sangat peduli, harus sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan juga terhadap kebersihan diri pribadi masing-masing," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- 5 Sepatu Jalan Lokal Tanpa Tali yang Nyaman dan Anti Jebol Menurut Review
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Dinkes Sleman Catat 112 Kasus Leptospirosis hingga Oktober 2026, Dua Meninggal Dunia
-
BRI Hadirkan Keistimewaan Pendidikan Anak bagi Nasabah Private dan Prioritas
-
Kas Daerah DIY Seret, Pemda Bidik Parkir hingga Penunggak Pajak jadi Sumber Pajak Baru
-
Pasien Rumah Sakit di Bantul Ditangkap Polisi Usai Lecehkan Perawat
-
Buntut Foto Wapres Gibran Diturunkan, Kemendagri Hubungi DPRD DIY, Setwan Langsung Evaluasi