Husna Rahmayunita | Rosiana Chozanah
Selasa, 22 September 2026 | 12:20 WIB
Hanung Bramantyo saat special screening film Lobang Buaya di Jogja
Baca 10 detik
  • Hanung Bramantyo mengangkat sejarah 1965 lewat film horor Lobang Buaya yang memadukan fiksi dan konteks sejarah.
  • Film ini terinspirasi propaganda "tujuh setan desa" dan mengaitkannya dengan persoalan kekuasaan serta ketidakadilan yang masih relevan.
  • Hanung menggunakan horor untuk membuka ruang diskusi tentang sejarah 1965 yang dinilai masih sensitif di Indonesia.

Horor untuk Membuka Ruang Diskusi Sejarah

Hanung sengaja memilih genre horor untuk menyampaikan cerita Lobang Buaya. Menurutnya, peristiwa 1965 masih menjadi topik sensitif di Indonesia sehingga ruang untuk mengangkatnya melalui film drama sejarah memiliki keterbatasan.

"Saya memilih horor bukan hanya untuk menghadirkan ketegangan, tetapi juga untuk merefleksikan ketakutan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan penindasan," kata Hanung.

Ia juga mengatakan pendekatan horor dipilih untuk menggambarkan rasa takut kolektif masyarakat ketika berhadapan dengan sejarah yang dianggap tabu.

"Di negara lain, film sejarah bisa dibuat bebas, bahkan dengan sudut pandang berbeda dari pemerintah. Di Indonesia, hal itu belum mungkin. Karena itu saya memilih horor agar penonton bisa terpicu untuk berdiskusi," jelasnya.

"Di Indonesia peristiwa 65 masih dianggap sensitif. Jadi tidak boleh kemudian diungkapkan sebagaimana di negara kalian, kalian bisa membuat film drama, film sejarah dengan bebas," sambungnya saat berbicara mengenai penayangan film tersebut di Rotterdam.

Menurut Hanung, Lobang Buaya merupakan upayanya membuka ruang diskusi mengenai sejarah 1965. Ia menilai pembahasan mengenai peristiwa tersebut saat ini banyak muncul melalui YouTube, tetapi tidak selalu mendapatkan perhatian sebesar konten hiburan.

Film ini dijadwalkan tayang pada 1 Oktober 2026, Lobang Buaya hadir sebagai karya yang menggabungkan sejarah, budaya, horor, dan kritik sosial. Hanung berharap film ini dapat memicu diskusi publik mengenai peristiwa 1965 yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.

"Saya ingin penonton tidak hanya merasakan horor dari cerita, tetapi juga horor dari kenyataan sosial yang masih kita hadapi," tutupnya.

Baca Juga: Screening 'Harusnya Horror' di Jogja Jelang Penayangan: Reza Arap dan AAAClan Disambut Meriah

Load More