SuaraJogja.id - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul menyebutkan harga cabai di tingkat pedagang pasar yang saat ini mencapai lebih dari Rp50 ribu per kilogram salah satunya karena faktor produksi panen yang tidak maksimal.
"Memang tanaman cabai yang sekarang ini banyak terserang hama bule, jadi produksinya tidak bisa maksimal," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo saat dikonfirmasi di Bantul, DIY, Senin.
Menurut dia, dengan tanaman cabai yang pada musim tanam ini terkena hama bule atau virus kuning tersebut berdampak pada stok panen di tingkat petani yang terbatas, sehingga mempengaruhi hukum ekonomi perdagangan.
"Bantul sekarang ini kan baru panen untuk tanaman cabai itu, baik cabai keriting, cabai rawit ya panen, tapi harga panen itu kan tergantung hukum ekonomi, mungkin daerah lain juga iya," katanya.
Dia mengatakan, tanaman cabai di Bantul yang terserang virus kuning dan berdampak pada daun dan batang terlihat menguning tersebut hampir merata di semua wilayah selatan Bantul.
"Cabai yang di wilayah Depok Kecamatan Kretek itu sekitar ratusan hektare yang terserang hama bule atau kuning kuning itu, serangannya merata, jadi produksi tidak bisa maksimal, baik cabai rawit, cabai keriting, cabai besar," katanya.
Meski demikian, kata dia, dengan tingginya harga cabai tersebut juga dirasakan manfaatnya bagi petani cabai sendiri, karena harga jual petani ke tengkulak juga lebih tinggi dibanding kondisi normal.
"Petani senang harganya bagus, hasilnya bisa dipakai buat menutup biaya saat panen bawang merah kemarin yang harganya murah. Apalagi, petani ada yang sudah petik cabai 15 kali, ada yang sudah 20 kali, macam-macam," katanya.
Pihaknya tidak menyebut luasan tanaman cabai di Bantul pada musim tanam saat ini, namun diakui akibat virus kuning yang salah satunya karena faktor cuaca ini bisa berdampak pada penurunan antara 10 sampai 15 persen.
Baca Juga: Pemuda Bantul Ini Dikira Pengangguran, Padahal Distributor Keripik Pisang Narkoba
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
-
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
-
20 Tahun Gempa Jogja Mulai Terlupakan, Ancaman Megathrust Masih di Depan Mata
-
Berkas Kasus Daycare Little Aresha Rampung Pekan Depan, Rekonstruksi Tertutup Menyusul
-
Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat