SuaraJogja.id - Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) UGM, Sri Wiyanti Eddyono mengungkapkan ada peningkatan laporan kekerasan seksual yang masuk ke UGM pada tahun 2024. Bahkan 40 persen dari total laporan yang masuk berasal dari luar lingkup kampus.
"Jadi yang pasti naik, ada peningkatan, peningkatannya cukup signifikan [laporan kekerasan seksual]," kata Sri kepada awak media di UGM, Selasa (23/7/2024).
Catatan itu memang sejalan juga dengan roadshow yang dilakukan oleh Satgas PPKS UGM ke kampus-kampus. Setidaknya kunjungan itu dilakukan dua kali dalam satu bulan.
Sri bilang peningkatan laporan kasus itu diasumsikan karena semakin meningkatnya kesadaran dan kepercayaan masyarakat. Tidak hanya untuk sivitas akademika universitas saja melainkan juga masyarakat secara umum.
"Dalam enam bulan terakhir 40 persen kasus yang masuk di UGM itu bukan kekerasan seksual dalam lingkup Tri Dharma. Nah sekarang ada kecenderungan mereka percaya itu kekerasan seksual yang di ranah domestik, yang di ranah kerja, bahwa mereka adalah masyarakat UGM yang melaporkan kekerasan seksual yang bukan dalam lingkup pendidikan," ungkapnya.
"Dan kami tetap menangani, kami membangun rujukan dan mekanisme kerja sama dengan lembaga lain," imbuhnya.
Hal itu dinilai sebagai perkembangan yang positif terkait dengan isu kekerasan seksual sekarang. Sehingga tidak hanya masyarakat kampus tapi juga umum yang memiliki kesadaran soal isu ini.
"Jadi itu perkembangan positifnya, dari yang tidak mau melaporkan sekarang banyak pelaporannya, terus yang dilaporkan kasus kekerasan seksual yang tidak hanya dalam lingkup Tri Dharma. Nah kita kan menjadi bagian dari masyarakat ya. Jadi kampus bukan hanya untuk kampus, kampus itu juga ada untuk masyarakat," tuturnya.
Senada, Komisioner Komnas Perempuan, Alimatul Qibtiyah mengatakan sejak Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi disahkan memang ada peningkatan dari sisi laporan ke Komnas Perempuan.
"Orang-orang yang selama ini korban, itu silent, karena kalau datanya Komnas Perempuan 80 persen itu silent tidak melaporkan. Itu ibarat gunung es itu sudah mulai meleleh es-nya," ujar Alimatul.
Disampaikan Alimatul, keberhasilan program kawasan bebas dari kekerasan seksual di perguruan tinggi itu bukan diukur dari menurunnya kasus. Melainkan diukur sejauh mana laporan atau aduan yang disampaikan kepada institusi itu diselesaikan dengan baik.
"Menurunnya kasus itu bukan indikator keberhasilan. Tapi keberhasilannya adalah sejauh mana semua laporan atau pengaduan yang dilakukan itu terselesaikan atau tertangani dengan baik dan seadil-adilnya yang punya perspektif korban," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Pilihan
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
Terkini
-
Gandeng Ndarboy dan Happy Asmara, Film Musikal 'Cidro Asmoro' Siap Gebrak Bioskop 2026!
-
Persiapan ke Luar Negeri Lebih Praktis dengan BRI Money Changer di Lokasi Strategis
-
Nandhur Srawung di Jogja: Ajang Jambore Nasional Pemilik Xpander se-Nusantara
-
Dapat Sepeda dari BRI Peduli, Mahesa Semangat ke Sekolah: Tak Lagi Mesti Jalan Kaki Saat Banjir Rob
-
Dapur Warmindo di Sleman Meledak, Tiga Pegawai Terpental Keluar Warung