SuaraJogja.id - Tim pemeriksa dan pengawasan hewan kurban dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM masih menemukan kasus cacing hati pada penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha 2025.
Kendati demikian, berdasarkan catatan sementara temuan cacing hati pada hewan kurban di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami penurunan dari tahun lalu.
"Jadi hasil pantauan kami secara umum itu yang kita temukan adalah seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu cacing hati. Itu kasusnya," kata Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Alumni FKH UGM, Aris Haryanto, saat dikonfirmasi Senin (9/6/2025).
"Tapi kasusnya enggak banyak hanya sekitar 5 persen dari yang kita periksa," imbuhnya.
Angka ini, disampaikan Haryanto, menurun dibanding tahun sebelumnya yang hampir menyentuh 10 persen. Walaupun kepastian data itu masih bakal dilihat hingga esok.
"Kalau [tahun] kemarin hampir sampai 10 persen, ada penurunan walaupun kelihatannya tidak signifikan tapi ini data belum selesai tapi kalau sampai hari ini kelihatannya ada penurunan," ungkapnya.
Aris menilai bahwa penurunan ini kemungkinan dipengaruhi oleh program pengobatan rutin khususnya pengobatan cacing pada sapi, terutama dari wilayah Gunungkidul.
"Sapi [kurban] kebanyakan dari Gunungkidul, jadi kan kalau sapi dari sana sudah dilakukan program pengobatan cacing itu sudah enam bulan yang lalu," ujarnya.
"Kalau pengobatan cacing memang setiap enam bulan sekali, jadi mungkin ada efeknya. Jadi ada sedikit penurunan terutama sapi-sapi yang datang dari Gunungkidul," tambahnya.
Baca Juga: Pemkab Sleman Pastikan Ketersediaan Hewan Kurban Terpenuhi, Ternak dari Luar Daerah jadi Opsi
Adapun FKH UGM sendiri menerjunkan sekitar 285 mahasiswa yang disebar di lima kabupaten/kota se-DIY. Selain itu, ada sekitar 260-an dokter hewan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Yogyakarta ditambah para dosen FKH UGM.
"Dosen kita libatkan semua tapi hanya di lokasi tempat tinggal masing-masing atau di masjid terdekat," ungkapnya.
Selain cacing hati, dia memastikan tidak ditemukan kasus penyakit antraks selama pemantauan. Temuan penyakit lainnya pun tergolong ringan dan tidak membahayakan kesehatan manusia, seperti indikasi bekas infeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terdeteksi pada jantung sapi.
"Kemudian kasus yang dikhawatirkan kemungkinan penyebaran antraks itu tidak ada, tidak terjadi," ujarnya.
Hingga Senin hari ini, pemotongan hewan kurban masih berlangsung di sejumlah lokasi, terutama di lingkungan perkantoran.
Aris menyebut bahwa data final akan direkap pada Selasa esok. Namun tren awal menunjukkan situasi yang relatif terkendali dan aman bagi masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja
-
Setoran Pajak Meroket, Kinerja BRI Kian Solid Berkat Sentuhan Danantara
-
Tanggulangi Kekeringan di Musim Kemarau, Kodim 0730/Gunungkidul Bangun 18 Titik Sumur Bor
-
Materi Pencegahan LGBTQ Masuk Sekolah, Pengamat Ingatkan Guru Jangan Menghakimi Siswa
-
Haraku Ramen Buka Gerai Pertama di Jogja, Cita Rasanya Dipuji Bupati Sleman: Cocok di Lidah!