- Pengawasan oleh satgas MBG di Sleman diperketat
- Panewu di setiap Kecamatan/Kapanewon terlibat sebagai pengawas
- Berjalannya satgas MBG di Sleman sudah menemukan sejumlah masalah dan solusinya
SuaraJogja.id - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Sleman tengah menyusun standar operasional prosedur (SOP) bagi para Panewu agar dapat berperan aktif dalam pemantauan pelaksanaan program MBG di wilayahnya.
Wakil Ketua Satgas Percepatan Program MBG Pemkab Sleman, Agung Armawanta, menjelaskan bahwa pengawasan akan lebih efektif jika melibatkan panewu yang memiliki interaksi langsung dengan pamong kalurahan dan masyarakat.
"Pada tahap awal, pengawasan masih dilakukan secara internal. Namun, kini kami mulai melibatkan Panewu agar pemantauan di lapangan lebih optimal," ujar Agung dikutip dari Harianjogja.com, Minggu (19/10/2025).
Selain penyusunan SOP, Satgas juga melakukan inventarisasi jumlah dan sebaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sleman. Proses ini diikuti dengan pendataan jumlah penerima manfaat program MBG.
Dari hasil pendataan, Satgas menemukan adanya satu SPPG yang menyalurkan makanan bergizi kepada lebih dari 4.000 penerima manfaat dalam satu sekolah, melebihi batas standar 3.500 pax.
Agung menyebut, temuan tersebut masih perlu diverifikasi melalui pengumpulan data tambahan.
Agung juga menyoroti pentingnya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap SPPG.
Menurutnya, setiap tahapan menuju penerbitan SLHS harus dilalui sesuai prosedur tanpa adanya proses yang dipercepat.
"Perangkat daerah teknis tidak boleh mempermudah tahapan hanya demi menerbitkan SLHS," tegasnya.
Baca Juga: Rebutan Vasektomi Gratis + Dapat Rp1 Juta? Fenomena KB Pria di Sleman Bikin Kaget
Terkait penanganan jika terjadi kendala atau kasus di lapangan yang menyebabkan program MBG terhenti, Agung menjelaskan bahwa Satgas akan melakukan konfirmasi dan komunikasi langsung dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
"Setiap pihak memiliki kewenangan masing-masing. Kami memastikan koordinasi dan komunikasi dengan BGN terus berjalan," katanya.
Sementara itu, Panewu Kalasan, Samino, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan di salah satu sekolah sasaran program MBG.
Bersama Korwil Pendidikan dan petugas surveilans puskesmas, ia menemukan 21 siswa dan tiga guru mengalami gejala mual, muntah, dan diare usai menyantap menu MBG.
Namun, Samino menegaskan bahwa penyebab pasti belum dapat dipastikan karena tidak ada sampel makanan yang diuji.
"Kasus di SMP ini belum bisa disimpulkan karena laporan baru diterima setelah lebih dari 24 jam," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Menteri LH Akui Negara Kecolongan, Siap Tindak Tegas Perusak Alam Usai Berguru ke Sultan Jogja
-
SD Negeri Banyak yang Kekurangan Murid, Pemerintah Siapkan Opsi 'Regrouping'
-
Video Pengejaran Maling LPG 3 Kg di Bantul Viral, Pelaku Lolos Meski Sempat Terjatuh
-
Curhat ke Sri Sultan, GNB Ungkap Krisis Kepercayaan Publik pada Negara Kian Mengkhawatirkan
-
Mobil Brimob Terserempet KA Bandara di Sedayu, Begini Kronologinya