- Belum seluruh SPPG di Gunungkidul mengantongi sertifikasi kehigienitasan atau SLHS
- Pemkab Gunungkidul mendorong seluruh SPPG segera memiliki sertifikat
- Meski sudah berjalan, olahan menu MBG tanpa SLHS ini diawasi ketat agar tak ada kasus keracunan
SuaraJogja.id - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Gunungkidul, Sri Suhartanta, meminta seluruh Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) untuk segera mengantongi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) sebagai syarat penting dalam mendukung operasional dapur sehat.
Menurut Sri, hingga saat ini masih banyak SPPG di Gunungkidul yang belum memiliki sertifikat tersebut.
Padahal, keberadaan SLHS menjadi bagian dari langkah pencegahan terhadap potensi kasus keracunan makanan bagi siswa penerima manfaat program MBG.
"Kami terus mendorong agar semua SPPG segera memiliki SLHS. Ini bentuk antisipasi terhadap kejadian luar biasa, seperti keracunan pada siswa," ujar Sri Suhartanta, dikutip Minggu (19/10/2025).
Ia menjelaskan, pengurusan sertifikat dilakukan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dan pihaknya siap memberikan pendampingan kepada setiap SPPG yang akan mengajukan SLHS.
Sebagai bentuk komitmen, Satgas juga mengadakan pelatihan bagi juru masak agar memperoleh sertifikat penjamah makanan, yang menjadi salah satu syarat penerbitan SLHS.
"Proses pelatihan ini masih berlangsung dan menjadi bagian dari upaya kami untuk memastikan seluruh dapur sehat memenuhi standar kebersihan dan keamanan," imbuhnya.
Sri menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen menjaga pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Gunungkidul agar berjalan aman dan lancar.
Koordinasi rutin terus dilakukan dengan SPPG guna memastikan kualitas makanan dan keamanan bagi para penerima manfaat.
Baca Juga: Yayasan Pengelola SPPG Jogotirto Berbah Buka Suara Soal Operasional Berhenti, Dana Belum Turun
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menegaskan bahwa kepemilikan SLHS merupakan kewajiban bagi seluruh dapur sehat yang melayani program MBG.
Proses pengurusannya pun tidak dipungut biaya alias gratis.
"Saat ini ada 17 SPPG yang beroperasi di Gunungkidul, namun baru satu dapur sehat yang memiliki sertifikat SLHS. Kami terus dorong agar semuanya segera mengurus," kata Ismono.
Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan juga tengah mengadakan pelatihan penjamah makanan sejak 7–21 Oktober 2025, untuk meningkatkan kompetensi para pemasak dalam menjaga higienitas makanan.
Selain itu, pihaknya akan melakukan inspeksi langsung ke lokasi dapur sehat guna memastikan kebersihan dan standar sanitasi terpenuhi.
"Semua SPPG wajib memiliki SLHS, dan kami siap membantu prosesnya. Harapannya, seluruh dapur sehat dapat beroperasi dengan aman serta memenuhi standar kebersihan," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi