- Warga bantaran Kali Code resah karena Jembatan Kewek peninggalan 1920-an kondisinya kritis, diperkirakan sisa kekuatan kurang dari 20 persen.
- Gubernur DIY mendesak Pemkot Yogyakarta segera mengambil langkah perbaikan darurat atas kekhawatiran warga akan potensi keruntuhan.
- Pemkot telah menyelesaikan DED rehabilitasi, namun terkendala anggaran lebih dari Rp 12 Miliar sehingga menunggu bantuan pusat.
SuaraJogja.id - Kecemasan kini menggelayuti warga yang tinggal di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Bukan karena luapan air sungai, melainkan karena bayang-bayang Jembatan Kewek yang menua dan terancam ambrol tepat di atas kepala mereka.
Struktur ikonik peninggalan era 1920-an itu kini dalam kondisi kritis, dengan kekuatan yang disebut-sebut tersisa tak lebih dari 20 persen.
Bagi Listya dan Agus, warga Jogoyudan, pemandangan retakan dan struktur yang aus di bawah jembatan sudah menjadi santapan visual yang menakutkan setiap hari. Mereka bukan sekadar melihat besi dan beton tua, melainkan potensi malapetaka yang bisa terjadi kapan saja di salah satu urat nadi lalu lintas Kota Gudeg.
"Kalau pas lewat dibawahnya sangat kelihatan struktur jembatannya sudah banyak yang hancur," ungkap Listya, dengan nada khawatir, Senin (24/11/2025).
Perasaan was-was itu semakin menjadi saat musim penghujan tiba. Agus, warga lainnya, menunjuk pada retakan yang menjalar di banyak sisi jembatan. Ketakutan terbesarnya adalah ketika arus deras Kali Code menggerus fondasi dan memicu longsor yang meruntuhkan jembatan.
"Banyak strukturnya [jembatan kewek] yang sudah retak disana-sini, takutnya longsor kalau sungai code meluap," imbuhnya. "Ngeri kalau tiba-tiba ambrol saat banyak kendaraan yang lewat," timpal Listya.
Kekhawatiran warga ini akhirnya sampai ke telinga orang nomor satu di DIY. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret.
Sultan mendesak adanya perbaikan darurat sebelum kerusakan bertambah parah dan mengancam nyawa.
"Itu kewenangan kota, saya belum dapat laporan maunya apa," ujar Sultan usai jadi keynote speech Diskusi Obligasi Daerah di Yogyakarta.
Baca Juga: DANA Kaget Spesial Warga Jogja: Akhir Pekan Cuan Rp199 Ribu, Sikat Linknya!
Meskipun menegaskan bahwa ini adalah ranah Pemkot, Sultan membuka kemungkinan adanya intervensi dari Pemda DIY atau bahkan pemerintah pusat jika diperlukan. Namun, inisiatif awal harus datang dari kota.
"Nanti kita lihat perlu partisipasi tidak. Apakah kita memerlukan jembatan baru atau yang lama diperbaiki, saya kan belum tahu," tandasnya.
Di sisi lain, Pemkot Yogyakarta bukannya tanpa rencana. Detail Engineering Design (DED) untuk rehabilitasi jembatan bersejarah itu telah rampung. Masalahnya klasik: anggaran.
Biaya yang dibutuhkan untuk membangun jembatan baru atau melakukan perbaikan total diperkirakan mencapai lebih dari Rp 12 Miliar, angka yang membuat Pemkot harus menunggu uluran tangan dari pemerintah pusat.
Kini, nasib Jembatan Kewek dan keselamatan ribuan warga yang melintasinya setiap hari berada dalam tarik-ulur kewenangan dan ketersediaan anggaran.
Sementara birokrasi berputar, warga di bantaran Kali Code terus hidup dalam cemas, berharap suara ketakutan mereka didengar sebelum terlambat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
-
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
-
20 Tahun Gempa Jogja Mulai Terlupakan, Ancaman Megathrust Masih di Depan Mata
-
Berkas Kasus Daycare Little Aresha Rampung Pekan Depan, Rekonstruksi Tertutup Menyusul
-
Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat